Posts Tagged ‘aktifitas’

Record track Gunung Guntur dari viewranger per 15 menit -1

Record track Gunung Guntur dari viewranger per 15 menit -1

Record track Gunung Guntur dari viewranger per 15 menit -2

Record track Gunung Guntur dari viewranger per 15 menit -2

Sebenernya perjalanan ke gunung yang satu ini di luar rencana, mhmm, masuk rencana ga sih sebenernya, ya pokoknya gitu lah. Nanti ane ceritain bro lebih detail.

Bermula dari respon ke broadcast twips ane. Iseng-iseng di twitter posting ajakan nanjak ke Gunung Slamet. Emang sih, seinget ane nih Gunung Slamet sempet geleng geleng, tapi seinget ane juga udah setahun yang lalu. Jadi, ane berasumsi, ini gunung tepatnya ini hari lagi lancar-lancar aja buat didaki. Gunung  yang dengan ketinggian 3432 mdpl itu begitu menarik untuk dijelajahi, terutama buat rekan-rekan yang kehabisan tiket kereta dan jarak masi bisa ditempuh dengan bus. Sampe akhirnya dapet info dari twitter kalo gunung itu masih tutupan, ditambah lagi ane konfirmasi sama “mbah marijannya” itu gunung, eh dia jawab bener & mengiyakan kalo slamet masih tutupan.

Nanjak terancam gagal!

Wah buru2 laporan bung Sony kalo Slamet tutup. Pilihan kita alihkan ke beberapa opsi. Salak, Pangrango, Sindoro, & Guntur. Haha, ini namanya nanjak by accident. Ibarat lagi jalan kaki, eh gunung apa tuh, nanjak yuk. Yuuuk. Kayaknya asik tuh gunung, begitu lah kurang lebih ceritanya.

Okey goreng pilihan. Salak deket, bisa jadi pilihan utama. Pangrango, mhmmm, hello simaksi apa kabar bang, kaga ada simaksi buat Pangrango, kemungkinannya kecil. Sindoro, bisa jadi tapi ada resiko kendaraan, kabarnya kendaraan ga boleh sampe puncak (aduuh, tepok jidat). Guntur, boleh juga, deket walopun kelihatannya ga begitu menantang. Aaaahh, gaya!. Sebaiknya anda jangan ngikutin sifat yang ini. Jeleek, jelek banget, kenapa? Nanti juga tau.

Okay. 30 April 15. Meeting point terminal Kampung Rambutan. Tujuan Gunung Salak. Ane berangkat dari rumah, Cipayung, turun di pintu keluar pas Kp Rambutan. Jeng jeeeeng. Ahoyy. Rame bener bro. Gila bumi perkemahan Cibubur udah pindah kesini bang. Ada yg di emperan toko, ada yg di depan gerbang kantor TNI ada yg di trotoar, ada yg di dalam bis, ada yang di bawah bis (aduuh, tepok muka, bukan jidat lagi). Okey, objektif nungguin Sony yang berangkat dari Tanjung Priuk. Clingak clinguk jam, sampe jam10 belom kelihatan biji sama batangnya, (biji matanya maksudnyaa ngeres aja nih, terus kalo bataang, nah loh). Setelah hitungan jam sampe akhirnya nampak juga dia.

Setelah formalitas ngobrol sana sini, ok, karena kami ini sudah cukup kelamaan disini akhirnya ngeliatin bus yang ke arah Sukabumi. Setelah beberapa menit akhirnya dapat titik cerah. Bus ke arah Sukabumi udah habis. Congratz brooo. Haha. Seriuss!. Dan memang selidik demi selidik bus memang dah habis. Pikir otak lagi, muncul ide Gunung Guntur. Guntur dipilih karena sudah disebutkan tadi, plus busnya kaya terong sayur, sebentar sebentar ada. Tapi tetep tekad ke Salak masih belum pudar.

“Kita tunggu 10 menit lagi”, ujar ane ke Sony.Sampe akhirnya hopless merambah ke tingkat dewa. Celetuk ke Sony, “Oke Son ini yang terakhir, pokoknya bis apapun yg ada setelah ini, kita ke gunung itu”.

Kami pun satu suara. Pelan-pelan bis muncul, jeng jeng bis ke arah garut! Dan kerennya lagi, berderet, ga pake dua, empat sekaligus. Ckckckck. Ok son, that’s then our choice. Lanjut masuk bus. Duduk manis, and ngorok! Haha. Setelah searching info sedikit pastinya.

wpid-picsart_1431570145956.jpg

Mountaineer Silhouette

Informasi mengenai Guntur.

Jadi Gunung Guntur itu bisa di tempuh dari Jakarta melalui Kampung Rambutan. Tiket bus AC bulan Mei ’15 sekitat 52 ribu, non AC sekitar 40 ribuan. Dan yang harus di perhatikan. Gunung Guntur tidak seperti saudara dekatnya Cikuray & Papandayan yang mengharuskan kita mengakhiri bus hingga pool, Guntur harus berhenti di POM BENSIN TANJUNG, yes gede tulisannya biar terang (sebenernya ga ada hubungan gede sama nyala, kok jadi terang). Harus berhenti disitu karena pas banget di kaki Gunung Guntur. Biasanya kenek bakal teriak-teriak kaya orang kelaparan buat rekan-rekan yang bakalan turun di Guntur, oiya jangan lupa kasi pesan biar di reminding sama abangnya.  Mendaki ke Guntur yang penting jangan lupa bawa sepatu, ini karena treknya yang berpasir, bawa celana yang rada tebal, apalagi buat cewek yang kalo turun glesoran, bawa fotokopi KTP, gembok kecil untuk gembok tenda atau tas, bawa sunblock, bawa domba kambing sapi ketupat kebo (lu kira mao lebaran haji disono) beduk sekalian

Guntur adalah gunung dengan ketinggian 2249 mdpl, bersebelahan dengan Gunung Masigit, Gunung Guntur ini bukan merupakan gunung tunggal. Gunung ini merupakan kompleks gunung, dengan gunung pendukung di sekitarnya. Gunung Guntur sendiri memiliki 4 puncak, ada yang bilang 5, tapi sepengelihatan ane ada 4. Dengan puncak terakhir adalah puncak tertinggi.

Akses ke Gunung Guntur dari pom bensin Tanjung ini beberapa menit saja masuk ke gang sebelum pom bensin tersebut. Buat rekan-rekan yang beruntung bisa dapet tebengan truk pasir yang lalu lalang. Atau kalau enggak mau bersusah payah bisa mengeluarkan kocek 10ribu rupiah. Menggunakan mobil pick up yang terkadang ada di sekitaran pom bensin tersebut. Atau buat kalian yang udah tujuh bulan kaga nanjak, macam ane gini sodara-sodara (seharusnya), bisa langsung angkat carrier dan menyusuri jalan setapak demi setapak, selama 30 menit kira-kira. Tapi kenyataannya nyewa pick up juga (ssstt, jangan berisik dong).

Persiapan Mendaki

Ok turun dari bus, langsung ke musholla dan solat subuh. Ini nih sebagian perilaku yang kurang tepat dari temen-temen pendaki yang ane perhatikan. Jangan cuma jadikan serambi mushollanya buat tidur, dan toiletnya buat berak, tapi giliran azan buru-buru sok ga ngedenger. Warning!. Jangan gitu ya bro. Kalo ga terbiasa solat, tolong hormati paling enggak solat subuh, secara dah pake mushollanya. Sekedar mengingatkan, alangkah baik jika kita saling mengingatkan. cling cling cling (kedip mata).Sip ya. Sholat udah packing back udah. Angkat tas carrier langsung cari sarapan.

Tanda dimana sudah sampai di tempat pelaporan adalah truk atau pick up yang rekan-rekan tumpangi berhenti (yaiyalah), nah itu lah tandanya. Ada gapura beton pas lurusan menuju arah gunung, di sebelah kanannya ada tempat pelaporan. Gunung guntur tidak seperti tempat pelaporan gunung lain, gunung guntur hanya ada rumah pak RT untuk melapor dan menyerahkan KTP atau fotokopi KTP sebelum berangkat, dan memberikan dana seikhlasnya.

Kami menyewa pick up tidak berduaan, kalo berduaan terlalu kaya karena otomatis membiarkan pik up bagian belakang kosong melompong (aduuh, sombong belakang melompong). Kami menyewa dengan 2 tim pemberangkatan lain, 1 tim lagi salah satu personilnya sudah ane kenal, dia junior di kampus dulu, anak fakultas ekonomi. Satu grup lagi ane ga tau, terdiri dari 4 orang dan emang kayanya empat orang ini keblangsak (baca: nelangsa) banget hidupnya, haha, peace booy!.

Ada Deni, Adih, Nizar dan Arif grup keblangsak ini semuanya dari Tangerang.

Setelah pelaporan 1 grup yang siap langsung duduk-duduk dulu. 1 grup walaupun keblangsak tapi siap juang. Nah kami segera mengakuisisi grup ini, bahasanya berat kan, sampe ane sendiri ga tau artinya. Setelah berkenalan dan sedikit pemanasan serta pemerasan, lotion maksudnya, ekke kan ga mau kalah laah sama yang di perempatan. Haha. Lotion ini perlu karena karakter Guntur yang gundul, jarang pepohonan, membuat matahari tanpa halangan langsung ke epidermis saudara-saudara.

Perjalanan Mendaki

Peta fotokopian jalur Gunung Guntur

Peta fotokopian jalur Gunung Guntur

Masuk ke kaki gunung kami disuguhi pemandangan batu yang luar biasa, masuk terus melintasi pabrik pengolahan pasir. Pelan-pelan hingga akhirnya mulai masuk ke hutan, tercover dengan pepohonan di sekitar. Perjalanan berliku, hingga menemukan vegetasi pinus yang tidak terlalu rapat. Masi menanjak, hingga nanti menemukan turunan dengan suara gemericik air. Disitu kami beristirahat dan mengisi persediaan air. Kata orang ini air terakhir, diatas sudah tidk bisa ditemukan lagi, yasudah karena dari 6 orang kami belum pernah ke Guntur sebelumnya langsung aja isi penuh amunisi.

Pemandangan pembuka sebelum hutan

Pemandangan pembuka sebelum hutan

Perjalanan terus berlanjut. Kali ini kami bertemu dengan trek vertikal. Belum memasuki wilayah sabana Guntur. Masih dalam rangka menuju pos 2. Ini wilayah pertama di Guntur yang mempertemukan lutut dengan dagu. Ckckck. Trek bebatuan vertikal, yang bukan cuma pake kaki, tpi juga pake tangan saat jalan. Kalo dilihat dari viewranger, software dari android, perjalanan disini cukup pelan tapi kontinyu, tidak terlalu banyak istirahat karena dibawah kita rombongan lain menanti. Jadi perjalanan harus cepat. Hingga akhirnya bertemu pos 2, yang tidak seperti pos lain. Pos 2 ini bukan tempat favorit untuk beristirahat, karena hanya tulisan yang dipaku ke pohon menunjukkan arah berikutnya.

Tanjakan vertikal menuju pos 2 & 3

Tanjakan vertikal menuju pos 2 & 3

Pos 3 ini salah satu tempat favorit untuk ngecamp, boleh dibilang ideal karena tempat yang cukup luas dan tersedia air. Nah loh, tadi perasaan ada yang bilang persediaan air terakhir. Yes, ada bisikan gaib, haha, yang mengharuskan kami mengisi air di bawah, dengan agak sedikit nyesel, lumayan satu jam lebih bawa 5 liter air. Ada pos pelaporan juga di tempat ini. Yang jelas puncak Guntur terlihat cukup jelas disini, dan cukup dekat, ya cukup dekat kalo pake helikopter. Kami berangkat pukul 8 dan di pos 3 ini belum sampe jam 12 siang yang artinya, pos 3 Ini belum setengah perjalanan. Welcome broo..

Istirahat sejenak selepas pos 3

Istirahat sejenak selepas pos 3

Dari pos 3 ini sejatinya puncak 1 guntur sudah terlihat. Ya tidak seperti gunung lain yang dipenuhi pepohonan. Selepas dari pos 3 ini vegetasi pepohonan sudah mulai jarang ditemukan, ditemukan hanya satu dua sampai 10 selama perjalanan (aduuh tiba-tiba 10). Karena vegetasinya yang jarang pohon tinggi, membuat pendakian siang hari begitu menyengat dan satu dua pohon seperti menjadi oase di tengah padang pasir, banyak orang berebutan untuk berteduh. Tapi hal tersebut bukan menjadi halangan buat kami, kami terus menanjak tanpa lelah, tidak memperdulikan panas, karena memang kebetulan sedang mendung (aduh, ya allah ampuni hamba).

Seperti yang sudah ane ceritakan di awal, sudah lebih dari 7 bulan tidak nanjak dan nanjak langsung tanpa persiapan fisik, ini seharusnya yang tidak disarankan. Buat seluruh rekan-rekan sehebat apapun kalian, sesenior apapun kalian dalam urusan nanjak menanjak, yang namanya persiapan fisik adalah sebuah keniscayaan. Selama perjalanan paha kiri ane mengalami pegel yang meningkat menjadi keram, ane coba kontrol dengan memberikan beban ke kaki kanan, jadi terus menumpu ke kaki kanan. Cukup membantu sampai akhirnya keram dapat teratasi. Istirahat sejenak, tapi kejadian yang sama berulang, mungkin karena posisi istirahat yang kurang tepat juga, plus posisi melangkah saat nanjak. Yang ane pelajari jangan menanjak dengan kaki belakang dalam posisi lurus. Kaki belakang harus agak ditekuk sedikit agar otot tidak tertarik. Ane di posisi yang salah, sehingga kaki keram dua-duanya. Gile bro, ini ga pernah terjadi sama ane selama nanjak, dua duanya keram. Sehingga ane angkat tangan dan stop. Untungnya dari 5 orang rekan ane tersebut ada yang cukup ahli dalam pijat memijat, wah asik dong nanti di tenda (kode). Ane singsingkan celana dan mulai di treatmen sama Abang Deni. Thanks brother.

Pemanasan di tengah perjalanan yang malah nambah keram

Pemanasan di tengah perjalanan yang malah nambah keram

Perjalanan dilanjutkan sambil mengontrol keram ane. Waktu menunjukkan pukul 12.30 dan kami menghentikan perjalanan untuk sekedar istirahat dan mengisi perut kami yang memang sudah waktunya terisi makanan.

MSD. Makan Siang Darurat

MSD. Makan Siang Darurat

Perjalanan masih terus berlanjut, masih sekitar 3-4 jam lagi untuk mencapai puncak 1. Satu hal yang membuat kami terus berjalan  adalah target, ada yang teriak ke rekan-rekan, bro pohon yang disana kita berhenti entah pohon yang mana yang penting ada pohon di depan dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit, disana baru kita berhenti, sehingga semua orang berlomba-lomba mencapai pohon tersebut, lumayan itu bisa menjadi penyemangat, karena ada objektif dan target kecil. Memang lelah sekali karena menanjak terus straight tanpa pegangan dan terkadang pijakan yang mudah turun.

Kita bisa melihat pendaki lain di atas kita

Kita bisa melihat pendaki lain di atas kita

Ada kejadian lucu sekaligus mencengangkan saat kami hampir tiba di puncak pertama. Serombongan anak-anak SMA, atau SMP entah lah, looks young. Dengan bangganya mereka foto-foto di puncak 1 tersebut, setelah foto mereka perjalanan turun. Nah disini kejadian yang mencengangkan, karena turunan, mereka dengan berani lari tanpa kontrol mengikuti turunan. Satu dua langkah masih terkontrol, langkah ketiga dan keempat menjadi panjang dan tanpa kontrol, tubuh doyong ke depan, langkah kelima bukan lagi pakai kaki, tapi kepala, terus seperti itu hingga kami yang  melihat berteriak histeris, bercampur antara lucu dan takut, kita pun yang ngeliat jadi berlompatan seperti teletubbies (aduuh pak). Hingga akhirnya si bocah dapat mengontrol dengan tangan dan menghantam batu, baru ia berhenti.

“De enggak apa-apa”

“enteu, enteu, enteu (tidak)”. Duduk meringis sambil megang muka dan kaki

Cukup menghibur, upsss, haha. Masyaallah

Setelah hiburan yang mencengangkan tersebut tibalah kami di puncak 1. Istirahat setengah jam, diskusi mengenai tempat ngecamp dan kita putuskan di antara puncak 2 dan 3. Yang mana masih harus berjalan lagi, kurang lebih 30-60 menit. Okelah, let’s go. Perjalanan berlanjut, di tengah perjalanan menuju puncak 2 kabut turun disertai rintik hujan, Semua eksekusi jas hujan, ada juga tim yang pakai payung, berduaan, duh mesra banget, ekke mau cyiiin, haha, tapi Sony kagak. Alasan, raincoat ada di dalam. Nah ini yang harusnya jadi pelajaran juga, barang-barang yang sekiranya diperlukan di tengah pendakian seperti raincoat, flysheet, headlamp, makanan ringan, bunga mawar harusnya berada di tempat yang mudah diakses. Sony memutuskan untuk lanjut dengan kondisi seperti itu, karena memaksakan nanjak dengan kondisi kehujanan, kedinginan, ditambah tubuh yang kelelahan, cocok membuat angin masuk ke perut. Jadilah mual, puyeng dan masuk angin. Again, don’t do that bro!

Puncak Gunung Guntur 2 dari kejauhan

Puncak Gunung Guntur 2 dari kejauhan

Lonely ranger

Lonely ranger

Okay singkat cerita summit time. Haha. Tenda berdirinya mana bro, gak diceritain? ah biarin aja udah kebanyakan nih, kesian yang baca gak selese selese.

Ceritain doong

Kebanyakan, gak rampung-rampung ni

Ayo doong

Iye, yaudah.

Singkat cerita tenda berdiri, semua orang mengerjakan tugasnya masing-masing. Nizar dan Arif pasang tenda, Deni bikin parit, Ane ngediriin tenda juga dibantu sony yang baru aja kurang fit (aduuh, bahasanya janggal ya), beres-beres sekaligus masak juga. Sama Abang Adih jadi koki buat temen-temen semua. Hari itu cuacanya tidak cukup bagus sehingga malam dilewatkan begitu saja. Tapi sempet juga sih bakar api unggun yang hampir jadi tenda unggun sama nungguin babi hutan.

Babi hutan yang biasanya jadi musuh bersama, hari itu rupanya memberi berkah buat kami. Gimana bisa bro?, jadi pas bangun pagi kita dapet sekitar 10 liter air bersih, wow. Wah babi hutan rajin banget ngegotongin botol aqua ke tenda kita, haha, itu mah babi ngepet bukan babi hutan. Jadi gini, tenda kita saling berhadapan, dan digabungkan dengan flysheet, untuk menyangga flysheet di tengah, kita tahan dengan tracking pole, nah ini yang dilakukan babi hutan rupanya. Entah kenapa tracking pole sudah tergeletak di pagi hari, dengan kondisi semalam yang hujan rintik kita temukan flysheet sudah menampung air di sisi kiri dan kanan. Segera dengan sigap setelah badan rileks, Bang Nizar yang satu tenda sama ane langsung menampung air dan di total dapet 10 liter, keren, bisa berenang kitaaa.

Tenda cuma berdua, mesra banget. Oiya di tengah itu ada tracking pole

Tenda cuma berdua, mesra banget. Oiya di tengah itu ada tracking pole

Eh terus pas abis summit ada yang nanya, “wei bro dapet banyak banget aer dari mana ini. Perasaan kemaren jerigen karet dah abis dah”.

Haha. Padahal sebelum summit udah di jelasin.

Setelah mengisi perut terlebih dahulu, summit dilakukan. Tidak lupa membawa amunisi dan kertas berpesan-pesan (ada yang bilang, yang ini niat banggeet). Enggak pas subuh, tapi yang penting summit. Jarak dari tenda sampai ke puncak 3 setengah jam. Sebenarnya puncak 3 bukan puncak tertinggi, masih ada puncak 4, tapi karena track yang tidak mudah, turun jauh lalu naik lagi, menyebabkan puncak 4 tidak begitu favorit. Rata-rata pendaki berkumpul di puncak 3 ini.

Biarkan foto yang berbicara.

Kebersamaan

Kebersamaan

Ngopi-ngopi di ketinggian

Ngopi-ngopi di ketinggian

Background adalah puncak keeempat, puncak tertinggi

Background adalah puncak keeempat, puncak tertinggi

Balik summit makan pagi plus rapel makan siang. Berkemas, beres-beres tenda dan siap balik. So short but, enjoyable. Sebelum balik gaya duluu.

Solaria di ketinggian

Solaria di ketinggian

Action before track down

Action before track down

Perjalanan balik cukup unik, karena tidak seperti perjalanan mendaki yang ngos-ngosan, perjalanan menurun justeru menyenangkan. Kalo pernah ada yang cerita sampe ada yang bolong-bolong celananya, yang ini lain cerita. Dengan medan kerikil dan pasir membuat perjalanan menurun jadi cukup menghibur. Turun dan otomatis ngerem, jadi kaki tidak terlalu dapat banyak beban. Tapi sekalinya yang diinjak medan dengan kerikil dan pasir yang tipis langsung pada guling-gulingan. Deni nimpa Sony, Sony nimpa ane di depan, jadilah kita peyek. Untung ga guling-gulingan sampe bawah, coba kalo iya. Cerita ini adanya di koran, bukan di sini.

perjalanan menurun Gunung Guntur

perjalanan menurun Gunung Guntur

Trek kerikil pasir usai, masuk trek tanah, justeru ini yang melelahkan. Tapi akhirnya tiba juga. Dengan waktu tempuh mulai pukul 13.30 tiba pukum 16.30, yes done, cuma 3 jam turun ternyata. Padahal perjalanan nanjak start pukul 8.00 tiba pukul 16 lebih.

Setelah tiba di tempat pendaftaran kembali. Beres-beres dan mandi. Kenapa mandi? kalo ini pengalaman pribadi selepas dari Gunung Gede. Saya sarankan buat rekan-rekan yang habis turun gunung, jika ada waktu mandi lah. Kasihan orang di bus, bukan hanya penumpang lain, sesama pendaki pun kalo ketemu di bus, dengan bau yang menyengat, akan tidak merasa nyaman. Malah imagenya jadi buruk, pendaki gak ngurus, gembel, bau dll. Marilah bersama kita hilangkan image tersebut.

Perjalanan menuju terminal guntur. Karena kalo rekan-rekan naik dari pom bensin tanjung sudah dipastikan bakalan berdiri, berdiri sampe jakarta. Jadi pergi lah menuju terminal guntur terlebih dahulu. Dengan ongkos yang cuma 10 ribu per orang start dari pos pendaftaran dengan menyewa pick up atau angkot, itu bisa lebih baik. Dari terminal guntur tak lupa isi perut dulu, dan sekitaran pukul 20.00 bus langsung berangkat menuju terminal kampung rambutan.

Tiba di Kampung Rambutan kita berpisah, mereka berempat menuju Tangerang, Ane dan Sony menuju cipayung.

In every hiking there is always special story to be remembered.

So moral of the story: Terkadang babi hutan gak nyuri, malah kali ini bersahabat. Kalo ga ada babi hutan lain kali bawa aja lilin, tengah malem jangan lupa, jagain tuh lilinnya.

Foroda, 16 Mei 2015

.

.

.

PicsArt_1431572272545

“Jika tidak bisa mengingat semua, tulis semua”.

Jainal13.wordpress.com

Twitter: @jainalabidin

IG: jay_zayn

(saat membuka mungkin lambat karena foto dalam High Definition Format)

Osad ‘aini

Wa baina maad
Law ahna baad
Akiid ragaa walaw baini wabainu blad

Wa baina maad
Law ahna baad
Akiid ragaa walaw baini wabainu blad

Osad ‘aini fii kulli makan
Osad ‘aini fii kulli makan

Wa min tani akiid ragaaiin
Ana dayib wa kulli haniin
Wala ‘omri abiiaa law miin
Osad ‘aini
W mush ader ‘aala al-ayam
Wala yuusif hawaya kalam
W tullaily wa lama banam
Osad ‘aini

(Osad ‘ainy-Amr Diab)

Ada cerita di school pertama. Cerita tepat sebelum berangkat. Cerita ketika di perjalanan. Cerita ketika school. Cerita ketika setelah school. Dan cerita saat ini. Wuaaaaahhh, sudah lama sekali tidak menorehkan kata-kata di blog. Semenjak itu, kalo kata temen di twitter, semenjak lo ………. dengan sangat tragis (fill the blank gap please,, up to u. haha).

Jadi kita mulai dari mana ya, mhmmm. Mulai dari situ sajja. *tapi jangan banyak-banyak mas, orang mumet bacanya. Banyakin gambarnya aja. Xixixix. *iya deeeehh, cerewet!. Satu kata memang, itu lagu memang sangat menggetarkan, eh pas nyoba cari tau artinya dalam bahasa Indonesia, lebih menggairahkan lagi, upsss.. menggetarkan.

Ane ga mao sok-sok romantic, en ga mao juga sok-sok alim. Cia elah. Yang namanya perasaan itu memang ga pernah ada yang tau. Kadang naik, kadang turun. Sama seperti iman, al imanu yazidu wa yanqus, ehem berasa ulama. Langsung sajalah tidak usah banyak cakap, see first picture. Jreng jeeeeeng…

Wallpaper Monas Jakarta
Wallpaper Monas Jakarta

Kenapa malah gambar monas ya?. Banyak sejarah tersimpan di monas. Termasuk sejarah hidup saya, hiks hikss.. *nangis mode on + lebay mode on. Foto tersebut diambil pada tanggal 3 Sept ’10, tepat setahun yang lalu. Banyak kenangan yang tertoreh karena monas, walaupun banyak orang yang tersakiti jika teringat monas. Dan dari monas ini juga saya menjadi semangat karena untuk survive di school yang ke-13 orang berpasang-pasangan punya kawan dengan bahasa yang sama, entah itu latino atau arabiano atau russiano, atau pula indiahe mereketehe jahe jahe. Saya berasal dari melayu sendirian! Tanpa ada orang Malaysia, Singapura, Brunai (kalo ada orang brunai enak kali yak, ane ditraktir terus, haha. Ngarepp), apalagi orang Indonesia. Tapi Alhamdulillah kesendirian ini tidak menjadi masalah, karena saya ingat monas itu. Dan momen pada saat taking picture tersebut.

Sebenarnya ingin sekali tulisan ini ditulis ketika 2 bulan school, tapi aah, sayang sekali baru bisa sekarang. Satu hal yang paling penting adalah saya sangat tidak ingin membuka kenangan masa lalu. Tapi mau tidak mau semua harus ditumpahkan agar tidak ada lagi yang tertahan. Mudah-mudahan tidak ada harapan tersisa, saya hanya ingin memberikan apa yang ada dalam pikiran saya. Cerita itu terus centang perenang dalam pikiran saya, dan tidak mudah untuk menenggelamkan untaian waktu yang terangkai walau sangat singkat. Osad ‘aini. Semuanya menjadi kenangan.

Burj al arab Dubai in night mode

Burj al arab Dubai

Ane ga pernah mengira akan terjadi hal yang mungkin juga ente-ente pada ga bakal mengira. *pasti ente-ente bacanya bingung sendiri. Ternyata malam itu adalah malam terakhir dimana setelah itu tidak ada cerita lagi. Dan ane bersyukur kepada allah karena masi bisa diberikan malam terakhir dan waktu yang cukup. Walaupun tidak ada setitik pun pikiran untuk tidak bertemu lagi setelah itu. Semuanya memang berlalu begitu cepat. Persimpangan jalan membuat sakit di jiwa. Keluarga atau orang lain. Dan ketika coba dipikirkan lagi betapa banyak pikiran ini telah membuat sakit dan teririsnya hati orang lain. Too much, terlalu banyak!. coba kita tengok lagi syair lagu diatas, Wa baina baad (ada tautan antara kita), coba seandainya kita tidak pernah bertaut, tidak pernah bertemu. Mungkin tidak akan ada yang tersakiti akhirnya. Siapapun. Tidak ada yang akan tersakiti. Tapi ya itulah jalan kehidupan. kita ditakdirkan untuk bertemu, bertatap muka, bersenyum dan terisak, walau akhirnya kita sadar bahwa suatu saat kita akan terpisah. Entah memang karena ruang yang berbeda atau jiwa yang berbeda. Dan ini nasihat buat siapapun yang merasa nyaman dalam kebersamaan, bahwa segalanya akan sirna, kebersamaan akan menjadi kesendirian ketika menghadap hadirat-Nya ketika mulai hari perhitungan.

Sudahlah, jangan menangis lagi..

Bukankah Ia mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dalam setiap kesempatan dan bersabar dalam setiap kesempitan.

jalan di Universitas Indonesia

UI road

Hai…!.

Kita tidak sedang berbicara suatu yang mellow kan??. Yes sure. So lets move it.

Setelah perjalanan panjang 9 jam dengan acara transit di negara tetangga terdekat. Sampai jualah di Negara perjuangan kemerdekaan ilmu pengetahuan (kalo yg ini jelas ngarang, jangan diikutin), abu dhabi. Tidak lupa deraian air mata diantara sela perjalanan. “aku harus meninggalkan Negara tercinta selama 2 bulan, menjadi TKI”, ahaha alah lebay, yg 20 tahun aja gak sampe segitunya. *yaa mohon maklum kalo baca paragraph sebelum-sebelumnya kan emang didahulukan dengan kemelow-an.

Sedih aja sich meninggalkan Indonesia dengan perasaan terluka, sebenernya yang terluka sana apa sini yak? Seharusnya kesedihan nan cupu ini tidak usah dikasi tahu siapa-siapa. Toh juga gak akan ada yang ngasi uang seribu-an.

dari sudut bandara

airport silhouette

Tidak mudah juga ternyata menceritakan hal yang banyak dalam waktu yang sempit. Banyak hal yang ingin diceritakan, tapi terbatas dengan ruang pikiran dan waktu yang tersedia. Memang menyederhanakan masalah dan mengarahkan pada tujuan dan targetnya benar-benar tidak mudah (menurut saya lho).

Nah setelah cerita di perjalanan yang sungguh menyesakkan dada hingga terbawa ke alam mimpi. Berikutnya adalah cerita tentang perjuangan di school. Satu kelas dengan 12 orang lainnya dari berbagai Negara di dunia. (Kayanya perlu untuk menceritakan namanya untuk arsip, haha).

Ini dia cerita dari skul pertama.

Ada Evegeny, ini brother yg paling akrab, dengan aksen English amerika-nya yg sangat fasih, pemuda asli rusia yang dapat assignment di Brazil ini sungguh luar biasa, sangat kreatif, pikiran yang luas, dan sangat dihormati temen-temen sekelas, gaya bicara yang lugas dan mantap membuat kita sekelas sangat respek dengan pemuda ini, belum lagi hasil kreatifitas adobe pdf-nya yang sangat mantap, ah. Okehlah pokoknya. Ada Daniyar, pemudah muslim asal Kazakhstan ini berwajah sangat cerah, dan bernuansa asia, dengan rahang dan tinggi sangat kecianaan tapi berbicara bahasa rusia. Haha, sangat kratif dan atraktif juga aktif dan inisiatif. Kebetulan dengan Russian brotherhood ini saya sangat akrab dan dekat, hingga belajar dan pergi bersama dengan mereka. Oh iya, Daniyar juga memberikan kenang-kenangan mata uang Russia dengan pecahan yang cukup besar, dia bilang kedua terbesar.

Ada lagi Omar al-yaqout, pemuda asal Kuwait ini dengan badan yang agak kurus, apabila berjalan dengan Bader akan terlihat seperti angka 10. Nuansa Kuwait yang mewah tidak terlepas dari pemuda ini, tapi ketenangannya dalam menghadapai masalah dan pertanyaan memang patut diacungi jempol. Sebagaimanapun rumitnya masalah dan kita ditimpa dalam kestressan manusia yang satu ini sangat tenang. Duduk disebelah kanan saya. Kalo jalan ke Dubai pasti belanja, haha, yaiyalah mata uangnya aja 1 Dinar = 3 dolar. Gaji total 7500 dolar perbulan. Instruktur yang asli Algeria pasti selalu ngecengin ini orang, “bagaimana kalau kita pindah kewarganegaraan”, haha. Next disebelah Evegeny (Evegeny duduk disebelah kiri saya bro) ada India tumhere jahe jahe. Ini pemuda juga sangat unik, bener-bener unik. Yang ada dalam pikirannya Cuma liburan-liburan-liburan dan internet browsing. Tidak lupa jika instruktur sedang menerangkan dengan seriusnya Aviral tidak lupa untuk mengangkat laptop sedikit dan browsing dan langsuuung, tapi hebatnya walaupun yang ada di dalam pikiran anak ini adalah hiburan tapi ketika ujian dan test, pasti mantepnya luar biasa. Emang india okeh banget lah. Cerdas ni orang, walaupun sedikit tau dia pasti akan mengembangkan pikiran menjadi sesuatu yang luas.

Ada Cedric disebelah kiri Daniyar, Daniyar didebelah kiri Aviral. Nah pak tua yang satu ini juga mantep, dengan usianya yang 28 Negroid tua ini terlihat muda. Orang ini adalah orang dengan karakter perusahaan sangat, tegas, pasti dan konsekwen. Luar biasa. Di awal-awal saya belajar banyak dengan pemuda ini, belajar bersama juga dengan salah satu pemuda dari Kongo, Cedric sendiri berasal dari Gabon. Di belakang Cedric ada Rudy. Haha, pemuda asal Kongo ini benar-benar sangat lucu. Dengan pola pikirnya yang aneh dan kekocakan serta pipinya yg lucu kalo senyum membuat geng Latino pasti ngecengin ini anak. Haha dengan waktu preschool yg sangat singkat yg hanya 2 bulan, membuat ia benar-benar bekerja keras, hingga cleaning service takut untuk masuk ke kamar ini bocah haha. Rudyyy.. we love u. haha.

Disebelah kanan rudy ada Herminio dan Fabio. Duet Brazilian ini benar-benar sangat membawa kelas ke arah mana nantinya. Dan Fabio, cerdas dan penjelasannya sangat jelas. Next disebelah kiri ada Alejandro pemuda asal Columbia ini sangat tenang, dengan bicara yang lambat dan jelas, serta senyuman yang tak lupa tersungging, tanpa emosi dan nada tinggi membuat pemuda ini cukup disegani pula, tak lupa girlfriendnya yg aduhai membuat Columbian ini berasa mantap. Dan tak lupa wanita yg ada di kamarnya saat akan berangkat ke Negara asal mereka. mhmm cukup mengagetkan saya, upss, maaf saya mengganggu kalian, hahaha. Berikutnya adalah Arabian brother Bader dari KSA, Karim dari Egypt, dan yang paling tua Ali dari Iran. Sangat member warna dalam kelas ini. Geng arab yang satu ini bersama dengan omar pasti sangat asik jika sudah masuk tema pembicaraan. Apalagi jika pembicaraan ini menyangkut nama teluk. Ini teluk Persia atau teluk Arab, haha, Ali akan mengatakan ini adalah teluk Persia, tapi Bader & Omar akan bilang ini adalah teluk Arab. Its about oil & gas, I think. Mereka adalah orang yang luar biasa. Dan saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka semua. Oiya, dan tak lupa Mr. Ramdani dari Algeria yang selalu ketemu pas sholat zhuhur di musholla. Thanks sir upon your knowledge.

Multi Nationality Class

TEP-2 March-May 2011

Thanks for the sahara,

Dubai Desert Rangers

Desert Rangers

Multi Nationality class in safari desert

Multi Nationality class

safari desert in dubai

Dubai desert

Thanks for the silhouette,

siluet senja gurun

silhouette hunter

Thanks for the swinging dance and the belly,

desert swinging dance in dubai

swinging dance & belly dance

Thanks for the Journey and touring,

Burj al khalifa in noon

Burj al khalifa

Burj Al Arab in noon mode

Burj Al Arab Dubai

inside of a mall

inside of dubai mall

Cerita ketika school pertama ini adalah cerita tentang perjuangan dan kebersamaan. Beratnya tantangan yang dihadapi menjadi ringan ketika dihadapkan dengan kebersamaan teman-teman, entah dalam kelas atau teman-teman dari Indonesia. Semuanya jadi easy ketika dihadapi bersama. Dan ada lagi cerita unik yang menarik, di sela-sela padatnya jadwal, di akhir pekan kita tak akan lupa untuk pergi ke kota (tempat kita pelosok di tengah gurun sehingga ketika akhir pekan kabanyakan mereka lari ke kota) menyempatkan diri untuk makan-makanan khas Abu Dhabi, Nasi Padaaang! Memang paling eksis yang namanya nasi padang ini, walaupun yang masak orang sunda.

sari rasa abu dhabi

restaurant sari rasa abu dhabi

Emang paling d’best dah masakan padang, ditengah mumetnya makan-makanan arab ala india yang rasanya aneh (kayanya ini menurut saya aja deh, ga tau menurut yang lain). Tapi setidak-tidaknya benar-benar menghibur dan melepas kerinduan yang mendalam, setelah bertahun-tahun gak pulang ke Indonesia (lebayyy mode on). Tapi bener lho, disini banyak orang Indonesia, sekali masuk gak berasa kalo sedang ada di negeri antah berantah. Kebanyak dari mereka pas kita ajak ngobrol adalah para pekerja, TKI, ga jauh dari kita-kita ini, Cuma bedanya kita di-reserve abizz. Terkadang kalau kita membicarakan mereka kita jadi berasa sedih, miris, terkadang bangga juga dengan mereka. Bagaimana tidak, dengan keahlian yang minim, bahkan “0”, mereka dengan nekatnya pergi ke Negara orang, tanpa bisa bahasa dan keahlian tertentu, pun dari penyalur tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal tertentu. Ketika mereka lari ke kedutaan, kedutaan tidak tahu menahu tentang hal ini semua, kedutaan mengurusu hubungan diplomatik yang bukan hanya sekedar mengurus masalah TKI. Sehingga kadang mereka terbengkalai tanpa ada yang mengurusi. Sangat berbeda dengan TKP (Tenaga Kerja Philiphine) yang mereka dididik sangat, mereka punya mess/apartemen tempat mereka berkumpul, dan yang jelas mereka TRAINED! Dengan kemampuan bahasa asing yang memadai. Dan firstime ketika melihat mereka, mereka sangat melayu, dengan paras yang benar-benar mirip, sehingga pertama kali anda akan tergiur (sett dah bahasanya tergiur) untuk berbicara bahasa arab, eh perancis, eeeh melayu denk. Ada salah satu joke kita ketika membicarakan masalah ini, masalah perbedaan antara TKI dengan TKP. “lo kalo mau liat saudara seperjuangan gak akan ketemu di mall-mall men, sumpah ga akan, kalo mau liat coba ente bertamu ke rumah-rumah juragan arab itu, pasti ketemu dengan sodare-sodare ente disana”, haha miris memang. Itulah kenyataan, TKP dibekali bahasa sehingga mereka sangat mandiri disana, bekerja, jalan sendiri, lebih bebas, bahkan ada yang berkeluarga. Yah itulah kenyataan, makanya jangan heran.

Hayo-hayooo, siapa yang mau jadi TKI. “sayaaaa mau, tapi TKIT. Tenaga Kerja Indonesia-Trained!”.

Ada cerita tentang the last chocolate yang berhubungan dengan TKIT. Mhmmm, apa yaa.. Nantikan kelanjutannya di part 2.

silverqueen the last chocolate

last chocolate

Ada pula cerita tentang syair yang dibawakan oleh Maher Zain, yang menyindir negeri arab di sebuah salah satu lagunya. mhmm, kira-kira yang mana ya ?

pool in desert

pool in burj al khalifa dubai

To Be Continued..

————————————————————————————————————————-

 

 

 

 

 

jay_zayn@yahoo.com

Jainal13.wordpress.com

Jay_zayn 29 Agustus 2011/ 29 Ramadhan 1432 H, home sweet home.