Archive for the ‘Cinta’ Category

(saat membuka mungkin lambat karena foto dalam High Definition Format)

Osad ‘aini

Wa baina maad
Law ahna baad
Akiid ragaa walaw baini wabainu blad

Wa baina maad
Law ahna baad
Akiid ragaa walaw baini wabainu blad

Osad ‘aini fii kulli makan
Osad ‘aini fii kulli makan

Wa min tani akiid ragaaiin
Ana dayib wa kulli haniin
Wala ‘omri abiiaa law miin
Osad ‘aini
W mush ader ‘aala al-ayam
Wala yuusif hawaya kalam
W tullaily wa lama banam
Osad ‘aini

(Osad ‘ainy-Amr Diab)

Ada cerita di school pertama. Cerita tepat sebelum berangkat. Cerita ketika di perjalanan. Cerita ketika school. Cerita ketika setelah school. Dan cerita saat ini. Wuaaaaahhh, sudah lama sekali tidak menorehkan kata-kata di blog. Semenjak itu, kalo kata temen di twitter, semenjak lo ………. dengan sangat tragis (fill the blank gap please,, up to u. haha).

Jadi kita mulai dari mana ya, mhmmm. Mulai dari situ sajja. *tapi jangan banyak-banyak mas, orang mumet bacanya. Banyakin gambarnya aja. Xixixix. *iya deeeehh, cerewet!. Satu kata memang, itu lagu memang sangat menggetarkan, eh pas nyoba cari tau artinya dalam bahasa Indonesia, lebih menggairahkan lagi, upsss.. menggetarkan.

Ane ga mao sok-sok romantic, en ga mao juga sok-sok alim. Cia elah. Yang namanya perasaan itu memang ga pernah ada yang tau. Kadang naik, kadang turun. Sama seperti iman, al imanu yazidu wa yanqus, ehem berasa ulama. Langsung sajalah tidak usah banyak cakap, see first picture. Jreng jeeeeeng…

Wallpaper Monas Jakarta
Wallpaper Monas Jakarta

Kenapa malah gambar monas ya?. Banyak sejarah tersimpan di monas. Termasuk sejarah hidup saya, hiks hikss.. *nangis mode on + lebay mode on. Foto tersebut diambil pada tanggal 3 Sept ’10, tepat setahun yang lalu. Banyak kenangan yang tertoreh karena monas, walaupun banyak orang yang tersakiti jika teringat monas. Dan dari monas ini juga saya menjadi semangat karena untuk survive di school yang ke-13 orang berpasang-pasangan punya kawan dengan bahasa yang sama, entah itu latino atau arabiano atau russiano, atau pula indiahe mereketehe jahe jahe. Saya berasal dari melayu sendirian! Tanpa ada orang Malaysia, Singapura, Brunai (kalo ada orang brunai enak kali yak, ane ditraktir terus, haha. Ngarepp), apalagi orang Indonesia. Tapi Alhamdulillah kesendirian ini tidak menjadi masalah, karena saya ingat monas itu. Dan momen pada saat taking picture tersebut.

Sebenarnya ingin sekali tulisan ini ditulis ketika 2 bulan school, tapi aah, sayang sekali baru bisa sekarang. Satu hal yang paling penting adalah saya sangat tidak ingin membuka kenangan masa lalu. Tapi mau tidak mau semua harus ditumpahkan agar tidak ada lagi yang tertahan. Mudah-mudahan tidak ada harapan tersisa, saya hanya ingin memberikan apa yang ada dalam pikiran saya. Cerita itu terus centang perenang dalam pikiran saya, dan tidak mudah untuk menenggelamkan untaian waktu yang terangkai walau sangat singkat. Osad ‘aini. Semuanya menjadi kenangan.

Burj al arab Dubai in night mode

Burj al arab Dubai

Ane ga pernah mengira akan terjadi hal yang mungkin juga ente-ente pada ga bakal mengira. *pasti ente-ente bacanya bingung sendiri. Ternyata malam itu adalah malam terakhir dimana setelah itu tidak ada cerita lagi. Dan ane bersyukur kepada allah karena masi bisa diberikan malam terakhir dan waktu yang cukup. Walaupun tidak ada setitik pun pikiran untuk tidak bertemu lagi setelah itu. Semuanya memang berlalu begitu cepat. Persimpangan jalan membuat sakit di jiwa. Keluarga atau orang lain. Dan ketika coba dipikirkan lagi betapa banyak pikiran ini telah membuat sakit dan teririsnya hati orang lain. Too much, terlalu banyak!. coba kita tengok lagi syair lagu diatas, Wa baina baad (ada tautan antara kita), coba seandainya kita tidak pernah bertaut, tidak pernah bertemu. Mungkin tidak akan ada yang tersakiti akhirnya. Siapapun. Tidak ada yang akan tersakiti. Tapi ya itulah jalan kehidupan. kita ditakdirkan untuk bertemu, bertatap muka, bersenyum dan terisak, walau akhirnya kita sadar bahwa suatu saat kita akan terpisah. Entah memang karena ruang yang berbeda atau jiwa yang berbeda. Dan ini nasihat buat siapapun yang merasa nyaman dalam kebersamaan, bahwa segalanya akan sirna, kebersamaan akan menjadi kesendirian ketika menghadap hadirat-Nya ketika mulai hari perhitungan.

Sudahlah, jangan menangis lagi..

Bukankah Ia mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dalam setiap kesempatan dan bersabar dalam setiap kesempitan.

jalan di Universitas Indonesia

UI road

Hai…!.

Kita tidak sedang berbicara suatu yang mellow kan??. Yes sure. So lets move it.

Setelah perjalanan panjang 9 jam dengan acara transit di negara tetangga terdekat. Sampai jualah di Negara perjuangan kemerdekaan ilmu pengetahuan (kalo yg ini jelas ngarang, jangan diikutin), abu dhabi. Tidak lupa deraian air mata diantara sela perjalanan. “aku harus meninggalkan Negara tercinta selama 2 bulan, menjadi TKI”, ahaha alah lebay, yg 20 tahun aja gak sampe segitunya. *yaa mohon maklum kalo baca paragraph sebelum-sebelumnya kan emang didahulukan dengan kemelow-an.

Sedih aja sich meninggalkan Indonesia dengan perasaan terluka, sebenernya yang terluka sana apa sini yak? Seharusnya kesedihan nan cupu ini tidak usah dikasi tahu siapa-siapa. Toh juga gak akan ada yang ngasi uang seribu-an.

dari sudut bandara

airport silhouette

Tidak mudah juga ternyata menceritakan hal yang banyak dalam waktu yang sempit. Banyak hal yang ingin diceritakan, tapi terbatas dengan ruang pikiran dan waktu yang tersedia. Memang menyederhanakan masalah dan mengarahkan pada tujuan dan targetnya benar-benar tidak mudah (menurut saya lho).

Nah setelah cerita di perjalanan yang sungguh menyesakkan dada hingga terbawa ke alam mimpi. Berikutnya adalah cerita tentang perjuangan di school. Satu kelas dengan 12 orang lainnya dari berbagai Negara di dunia. (Kayanya perlu untuk menceritakan namanya untuk arsip, haha).

Ini dia cerita dari skul pertama.

Ada Evegeny, ini brother yg paling akrab, dengan aksen English amerika-nya yg sangat fasih, pemuda asli rusia yang dapat assignment di Brazil ini sungguh luar biasa, sangat kreatif, pikiran yang luas, dan sangat dihormati temen-temen sekelas, gaya bicara yang lugas dan mantap membuat kita sekelas sangat respek dengan pemuda ini, belum lagi hasil kreatifitas adobe pdf-nya yang sangat mantap, ah. Okehlah pokoknya. Ada Daniyar, pemudah muslim asal Kazakhstan ini berwajah sangat cerah, dan bernuansa asia, dengan rahang dan tinggi sangat kecianaan tapi berbicara bahasa rusia. Haha, sangat kratif dan atraktif juga aktif dan inisiatif. Kebetulan dengan Russian brotherhood ini saya sangat akrab dan dekat, hingga belajar dan pergi bersama dengan mereka. Oh iya, Daniyar juga memberikan kenang-kenangan mata uang Russia dengan pecahan yang cukup besar, dia bilang kedua terbesar.

Ada lagi Omar al-yaqout, pemuda asal Kuwait ini dengan badan yang agak kurus, apabila berjalan dengan Bader akan terlihat seperti angka 10. Nuansa Kuwait yang mewah tidak terlepas dari pemuda ini, tapi ketenangannya dalam menghadapai masalah dan pertanyaan memang patut diacungi jempol. Sebagaimanapun rumitnya masalah dan kita ditimpa dalam kestressan manusia yang satu ini sangat tenang. Duduk disebelah kanan saya. Kalo jalan ke Dubai pasti belanja, haha, yaiyalah mata uangnya aja 1 Dinar = 3 dolar. Gaji total 7500 dolar perbulan. Instruktur yang asli Algeria pasti selalu ngecengin ini orang, “bagaimana kalau kita pindah kewarganegaraan”, haha. Next disebelah Evegeny (Evegeny duduk disebelah kiri saya bro) ada India tumhere jahe jahe. Ini pemuda juga sangat unik, bener-bener unik. Yang ada dalam pikirannya Cuma liburan-liburan-liburan dan internet browsing. Tidak lupa jika instruktur sedang menerangkan dengan seriusnya Aviral tidak lupa untuk mengangkat laptop sedikit dan browsing dan langsuuung, tapi hebatnya walaupun yang ada di dalam pikiran anak ini adalah hiburan tapi ketika ujian dan test, pasti mantepnya luar biasa. Emang india okeh banget lah. Cerdas ni orang, walaupun sedikit tau dia pasti akan mengembangkan pikiran menjadi sesuatu yang luas.

Ada Cedric disebelah kiri Daniyar, Daniyar didebelah kiri Aviral. Nah pak tua yang satu ini juga mantep, dengan usianya yang 28 Negroid tua ini terlihat muda. Orang ini adalah orang dengan karakter perusahaan sangat, tegas, pasti dan konsekwen. Luar biasa. Di awal-awal saya belajar banyak dengan pemuda ini, belajar bersama juga dengan salah satu pemuda dari Kongo, Cedric sendiri berasal dari Gabon. Di belakang Cedric ada Rudy. Haha, pemuda asal Kongo ini benar-benar sangat lucu. Dengan pola pikirnya yang aneh dan kekocakan serta pipinya yg lucu kalo senyum membuat geng Latino pasti ngecengin ini anak. Haha dengan waktu preschool yg sangat singkat yg hanya 2 bulan, membuat ia benar-benar bekerja keras, hingga cleaning service takut untuk masuk ke kamar ini bocah haha. Rudyyy.. we love u. haha.

Disebelah kanan rudy ada Herminio dan Fabio. Duet Brazilian ini benar-benar sangat membawa kelas ke arah mana nantinya. Dan Fabio, cerdas dan penjelasannya sangat jelas. Next disebelah kiri ada Alejandro pemuda asal Columbia ini sangat tenang, dengan bicara yang lambat dan jelas, serta senyuman yang tak lupa tersungging, tanpa emosi dan nada tinggi membuat pemuda ini cukup disegani pula, tak lupa girlfriendnya yg aduhai membuat Columbian ini berasa mantap. Dan tak lupa wanita yg ada di kamarnya saat akan berangkat ke Negara asal mereka. mhmm cukup mengagetkan saya, upss, maaf saya mengganggu kalian, hahaha. Berikutnya adalah Arabian brother Bader dari KSA, Karim dari Egypt, dan yang paling tua Ali dari Iran. Sangat member warna dalam kelas ini. Geng arab yang satu ini bersama dengan omar pasti sangat asik jika sudah masuk tema pembicaraan. Apalagi jika pembicaraan ini menyangkut nama teluk. Ini teluk Persia atau teluk Arab, haha, Ali akan mengatakan ini adalah teluk Persia, tapi Bader & Omar akan bilang ini adalah teluk Arab. Its about oil & gas, I think. Mereka adalah orang yang luar biasa. Dan saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka semua. Oiya, dan tak lupa Mr. Ramdani dari Algeria yang selalu ketemu pas sholat zhuhur di musholla. Thanks sir upon your knowledge.

Multi Nationality Class

TEP-2 March-May 2011

Thanks for the sahara,

Dubai Desert Rangers

Desert Rangers

Multi Nationality class in safari desert

Multi Nationality class

safari desert in dubai

Dubai desert

Thanks for the silhouette,

siluet senja gurun

silhouette hunter

Thanks for the swinging dance and the belly,

desert swinging dance in dubai

swinging dance & belly dance

Thanks for the Journey and touring,

Burj al khalifa in noon

Burj al khalifa

Burj Al Arab in noon mode

Burj Al Arab Dubai

inside of a mall

inside of dubai mall

Cerita ketika school pertama ini adalah cerita tentang perjuangan dan kebersamaan. Beratnya tantangan yang dihadapi menjadi ringan ketika dihadapkan dengan kebersamaan teman-teman, entah dalam kelas atau teman-teman dari Indonesia. Semuanya jadi easy ketika dihadapi bersama. Dan ada lagi cerita unik yang menarik, di sela-sela padatnya jadwal, di akhir pekan kita tak akan lupa untuk pergi ke kota (tempat kita pelosok di tengah gurun sehingga ketika akhir pekan kabanyakan mereka lari ke kota) menyempatkan diri untuk makan-makanan khas Abu Dhabi, Nasi Padaaang! Memang paling eksis yang namanya nasi padang ini, walaupun yang masak orang sunda.

sari rasa abu dhabi

restaurant sari rasa abu dhabi

Emang paling d’best dah masakan padang, ditengah mumetnya makan-makanan arab ala india yang rasanya aneh (kayanya ini menurut saya aja deh, ga tau menurut yang lain). Tapi setidak-tidaknya benar-benar menghibur dan melepas kerinduan yang mendalam, setelah bertahun-tahun gak pulang ke Indonesia (lebayyy mode on). Tapi bener lho, disini banyak orang Indonesia, sekali masuk gak berasa kalo sedang ada di negeri antah berantah. Kebanyak dari mereka pas kita ajak ngobrol adalah para pekerja, TKI, ga jauh dari kita-kita ini, Cuma bedanya kita di-reserve abizz. Terkadang kalau kita membicarakan mereka kita jadi berasa sedih, miris, terkadang bangga juga dengan mereka. Bagaimana tidak, dengan keahlian yang minim, bahkan “0”, mereka dengan nekatnya pergi ke Negara orang, tanpa bisa bahasa dan keahlian tertentu, pun dari penyalur tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal tertentu. Ketika mereka lari ke kedutaan, kedutaan tidak tahu menahu tentang hal ini semua, kedutaan mengurusu hubungan diplomatik yang bukan hanya sekedar mengurus masalah TKI. Sehingga kadang mereka terbengkalai tanpa ada yang mengurusi. Sangat berbeda dengan TKP (Tenaga Kerja Philiphine) yang mereka dididik sangat, mereka punya mess/apartemen tempat mereka berkumpul, dan yang jelas mereka TRAINED! Dengan kemampuan bahasa asing yang memadai. Dan firstime ketika melihat mereka, mereka sangat melayu, dengan paras yang benar-benar mirip, sehingga pertama kali anda akan tergiur (sett dah bahasanya tergiur) untuk berbicara bahasa arab, eh perancis, eeeh melayu denk. Ada salah satu joke kita ketika membicarakan masalah ini, masalah perbedaan antara TKI dengan TKP. “lo kalo mau liat saudara seperjuangan gak akan ketemu di mall-mall men, sumpah ga akan, kalo mau liat coba ente bertamu ke rumah-rumah juragan arab itu, pasti ketemu dengan sodare-sodare ente disana”, haha miris memang. Itulah kenyataan, TKP dibekali bahasa sehingga mereka sangat mandiri disana, bekerja, jalan sendiri, lebih bebas, bahkan ada yang berkeluarga. Yah itulah kenyataan, makanya jangan heran.

Hayo-hayooo, siapa yang mau jadi TKI. “sayaaaa mau, tapi TKIT. Tenaga Kerja Indonesia-Trained!”.

Ada cerita tentang the last chocolate yang berhubungan dengan TKIT. Mhmmm, apa yaa.. Nantikan kelanjutannya di part 2.

silverqueen the last chocolate

last chocolate

Ada pula cerita tentang syair yang dibawakan oleh Maher Zain, yang menyindir negeri arab di sebuah salah satu lagunya. mhmm, kira-kira yang mana ya ?

pool in desert

pool in burj al khalifa dubai

To Be Continued..

————————————————————————————————————————-

 

 

 

 

 

jay_zayn@yahoo.com

Jainal13.wordpress.com

Jay_zayn 29 Agustus 2011/ 29 Ramadhan 1432 H, home sweet home.

Iklan

Ketika Mas Gagah Pergi

Posted: 8 Januari 2011 in Cinta, islami, Kehidupan
Tag:,

Prolog dari yang punya blog.

Ketika di awal-awal populer novel dan cerpen islami ketika masa sekolah dulu, cerita Ketika Mas Gagah Pergi adalah salah satu cerita yang tidak akan pernah terlupa. Dengan sangat kuatnya tokoh “Mas Gagah” yang ditampilkan, walaupun ceritanya hanya sebaris lurus. Ketika Mas Gagah Pergi  menjadi ingatan selalu ketika melihat sosok pria yang ideal, sosok yang mengalami perubahan dengan cepat dan berubah dengan cepat. Kisah ini selalu menginspirasi, dan menjadi batu lompatan ketika diri terantuk pada kerikil kecil.

Cerita ini singkat, tapi tidak kalah kuatnya ketika cerita ini di awal muncul (bahkan hingga saat ini). Hingga pernah terdengar rumor bahwa cerita ini akan masuk ke layar lebar. Tapi sebaiknya tidak, biarkan karakter Mas Gagah selalu terpelihara mereka yang punya jiwa gagah.

 

KETIKA MAS GAGAH PERGI

Helvy Tiana Rosa

Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.

Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!”

“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”

Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?

“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…”Kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

“Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!

“Assalaamu’alaikum!”seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

“Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.

“Matiin kasetnya!”kataku sewot.

“Lho memangnya kenapa?”

“Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.

“Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!”

“Bodo!”

“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar.”

“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”

“Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…”

“Pokoknya kedengaran!”

“Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!”

“Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?”

“Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!” begitu kata Mas Gagah.

Oala.

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya “Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!”


Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.

“Penampilanmu kok sekarang lain Gah?”

“Lain gimana Ma?”

“Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…”

Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.”

Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. “Jadi mirip Pak Gino.” Komentarku menyamakannya dengan supir kami. “Untung aja masih lebih ganteng.”

Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.

Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?”

“Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!”

“Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. “Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”

Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?”

Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku.”Baca!”

Kubaca keras-keras. “Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim.”

Mas Gagah tersenyum.

“Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,” kataku.

“Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?” Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Coba untuk mengerti ya dik manis?”

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.

Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

“Mau kemana Gita?”

“Nonton sama temen-temen.” Kataku sambil mengenakan sepatu.”Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya.”

“Ikut Mas aja yuk!”

“Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!”

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

“Assalamualaikum!” terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

“Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?”tanyaku iseng.

Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt.”

Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!

“Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!” Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

“Ikhwan?’ ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?” Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

“Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita.” Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.”

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

“Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham.”

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.

“Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, ” ujar Tika tiba-tiba.

“Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…” kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…”

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin.” Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.

“Mbak Ana?”

“Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.

“Hidayah.”

“Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!”

“Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!” tegurku ramah.

‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

“Dari rumah Tika, teman sekolah, “jawabku pendek. “Lagi ngapain, Mas?”tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…

“Cuma lagi baca!”

“Buku apa?”

“Tumben kamu pingin tahu?”

“Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?”desakku.

“Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. “Nih!”serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.

“Naah yaaaa!”aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku “Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam” itu.

“Maaas…”

“Apa Dik Manis?”

“Gita akhwat bukan sih?”

“Memangnya kenapa?”

“Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…” tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

“Mas kok nangis?”

“Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit.”

Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…

“Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” Tanya Mas Gagah tiba-tiba.

“Gita capek marahan sama Mas Gagah!” ujarku sekenanya.

“Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?”

“Tenang aja. Gita ngerti kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.

“Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh, iya!”

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
“Nyoba pakai jilbab. Git!” pinta Mas Gagah suatu ketika.
“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.

Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama.”

Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.

“Gita mau tapi nggak sekarang,” kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.

“Itu bukan halangan.” Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.

“Ini hidayah, Gita.” Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

“Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.

“Lho! ” Mas Gagah bengong.

Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, “Hei itu kan Mas Gagah-ku!”

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, “Lho Mas Gagah kok bisa sih?” Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.

Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. “Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, ” kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.

Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.

“Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.

“Mas Gagah belum pulang. “kata Mama.

“Yaaaaa, kemana sih, Ma??” keluhku.

“Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…”

“Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. ”

“Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini.” Hibur Mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.

“Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!” Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.

“Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh..” hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

“Nginap barangkali, Ma.” Duga Papa.

Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa.”

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

“Kriiiinggg!” telpon berdering.

Papa mengangkat telpon,”Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?”

“Ada apa, Pa.” Tanya Mama cemas.

“Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…” suara Papa lemah.


“Mas Gagaaaaahhhh” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.

” Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini.” Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku. “Sabar sayang, sabar.”

Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

“Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?” Air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.

“Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…” bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga.”

Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi..”

“Gita…” suaraku serak menahan tangis.

Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah.” Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.

“Mas…ini Gita Mas..” sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.”

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

“Dzikir…Mas.” Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.

“Gi..ta…”
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.

“Gita di sini, Mas…”
Perlahan kelopak matanya terbuka.

“Aku tersenyum.”Gita…udah pakai…jilbab…” kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.

“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

“Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.

Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.

Epilog:

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.

Setitik air mataku jatuh lagi.

“Mas, Gita akhwat bukan sih?”

“Ya, insya Allah akhwat!”

“Yang bener?”

“Iya, dik manis!”

“Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!”

“Kok nanya gitu sih?”

“Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?”

“Ganteng kan?”

“Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?” Jihad itu apa sih?”

“Ya always dong, jihad itu…”

Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!

.

.

Blog terkait:

http://www.goodreads.com/book/show/1547048.Ketika_Mas_Gagah_Pergi

http://faraziyya.wordpress.com/2010/04/25/yang-terihat-kokoh/#comments.

http://fisan.wordpress.com/2006/06/08/cerpen-ketika-mas-gagah-pergi-2/

.

.

.

created by jayinhere 080111

picture taken from several wesites

Sedikit kita berintermezzo ditengah keseriusan dalam menjalanai hari, inginnya sih bebas dengan gaya bahasa bebas humoris. Tapi tetap tidak membuatku untuk tidak memposting cerita dari milist sebelah.

Cekidot guys..

SEBELUM KAMU MENCERAIKAN AKU, BOPONGLAH AKU

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu.

Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.

Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.

Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.

Nina hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Nina yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya.

Nina berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis”

Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis”.

Berpikir tentang ini, aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Nina dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”.

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.

Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Nina. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? “

Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

Ketika istriku mengunjungi kantorku, Nina baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan.

Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Nina berkata padaku, ” He , ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama”.

Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.

Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,

“Ada sesuatu yang harus kukatakan”

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.

“Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata- kataku, tapi ia bertanya secara lembut, “kenapa?, Aku serius”.

Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku, “Kamu bukan laki-laki!”. Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Nina.

Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya.

Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.

Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.

Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya, ” Apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari Pernikahan kita?”

Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya,

“Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.”

Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Nina soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini”, ia mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami, “Wah, papa membopong mama, mesra sekali”

Kata-katanya membuatku merasa sakit..

Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut, “Mari kitamulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita”. Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi kekantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana”.

Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Nina menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.

Aku tidak memberitahu Nina tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “Kelihatann ya tidaklah sulit membopongmu sekarang”

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, “Semua pakaianku kebesaran”.

Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar ku sentuh kepalanya.

Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”

Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.

Aku memeluknya dengan kuat dan berkata, “Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah.

Aku menaiki tangga.

Nina membuka pintu. Aku berkata padanya, ” Maaf  Nin, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”.

Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam”. Kutepiskan tanganya dari dahiku “Maaf, Nina, Aku Cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”

Nina tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.

Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?

Aku tersenyum, dan menulis  :

“Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua…”

all of photo taken by flickr

 

 

 

::be a contribute chemical engineer::

jainal.abidin@engineer.com

Saturday, Oktober 24th 2010. 00:03