Archive for the ‘Brainfresh’ Category

Sedikit kita berintermezzo ditengah keseriusan dalam menjalanai hari, inginnya sih bebas dengan gaya bahasa bebas humoris. Tapi tetap tidak membuatku untuk tidak memposting cerita dari milist sebelah.

Cekidot guys..

SEBELUM KAMU MENCERAIKAN AKU, BOPONGLAH AKU

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu.

Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.

Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.

Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.

Nina hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Nina yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya.

Nina berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis”

Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis”.

Berpikir tentang ini, aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Nina dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”.

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.

Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Nina. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? “

Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

Ketika istriku mengunjungi kantorku, Nina baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan.

Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Nina berkata padaku, ” He , ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama”.

Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.

Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,

“Ada sesuatu yang harus kukatakan”

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.

“Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata- kataku, tapi ia bertanya secara lembut, “kenapa?, Aku serius”.

Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku, “Kamu bukan laki-laki!”. Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Nina.

Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya.

Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.

Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.

Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya, ” Apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari Pernikahan kita?”

Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya,

“Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.”

Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Nina soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini”, ia mencemooh. Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami, “Wah, papa membopong mama, mesra sekali”

Kata-katanya membuatku merasa sakit..

Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut, “Mari kitamulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita”. Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi kekantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana”.

Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Nina menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.

Aku tidak memberitahu Nina tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “Kelihatann ya tidaklah sulit membopongmu sekarang”

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, “Semua pakaianku kebesaran”.

Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar ku sentuh kepalanya.

Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”

Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.

Aku memeluknya dengan kuat dan berkata, “Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah.

Aku menaiki tangga.

Nina membuka pintu. Aku berkata padanya, ” Maaf  Nin, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”.

Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam”. Kutepiskan tanganya dari dahiku “Maaf, Nina, Aku Cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”

Nina tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.

Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?

Aku tersenyum, dan menulis  :

“Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua…”

all of photo taken by flickr

 

 

 

::be a contribute chemical engineer::

jainal.abidin@engineer.com

Saturday, Oktober 24th 2010. 00:03


Iklan

Jika cinta damai di keheningan, biarkan ia tenggelam bersama temaramnya.  Mengendapkan rasam-rasam emosi yang tak semestinya ada.  Membungkus debaran dan sesak rindu yang tak jua mereda.  Menghempaskan segala rasa yang menghanyutkan dan melenakan.

Coba berikan aku definisi tentang kata itu.

Kata yang membuat dunia berbinar dengan harapan.

Kata yang membuat angkasa membumbung tak bertepi.

Kata yang membuat alam terhampar luas tanpa batas.

Kata yang membuat tuhan menciptakan semesta.

Kata yang membuat Adam rela mencari Hawa.

Kata indah yang membuat Majnun rela gila demi Laila, Romeo rela mati demi juliet, seorang Khadijah rela mendatangi Muhammad, hingga seorang Sarah yang rela membagi Ibrahim untuk Hajar.

Coba berikan aku definisi tentang kata itu..

Mungkin akan terdengar memalukan atau terdengar tabu oleh sebagian orang untuk membahas salah satu makna kata ini. Perjalanan & perjuangan kita akan  tetap berada di tempat jika terus membahas masalah yang satu ini. Tapi janganlah sampai kita melupakan bahwa ia datang tanpa diundang, dan tiba-tiba hinggap lalu menyuburkan dan memekarkan bunga-bunga hati. Mengherankan memang tapi itulah fakta yang tak terlakkan selama manusia hidup, tidak hanya masa-masa teenager atau post-teenager. Janganlah sampai diri ini menafikan bahwa manusia butuh perasaan cinta dan sayang. Cinta kepada tuhan pencipta, cinta kepada ciptaan sang pencipta.

Mungkin juga akan terdengar melankolis saat coba memasuki wilayah yang satu ini, apalagi buat seorang yang kesehariannya dipenuhi perjuangan dan perjuangan. Mungkin sebagian akan berpikir acuh dan tidak peduli. Ia tidak diundang, tapi ia datang dengan sendirinya. “Sudahlah ketika sudah waktunya, semuanya akan berjalan indah”. Pastinya kaya yang kita bahas satu ini tidak hanya kata kasih antara ciptaan dengan ciptaan, tapi juga menyanghkut makna yang lebih luas dari pencipta untuk sang ciptaan, dan pastinya korelasi keduanya. Walau terkadang tanpa sengaja dalam forum-forum kecil, forum obrolan ringan di kantin, kafe, halte, ruang rapat, ruang kelas, musholla, masjid dsb seringkali menyerempet-menyerempet ke arah sana, selalu menarik memang. Entah mengapa.

Dia akan mengajak kita pada suatu tempat yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya, tempat yang penuh bunga dan keindahan. Tapi juga terlihat penuh onak dan duri. Bisa juga penuh dengan racun dan kebusukan. Tergantung visi dalam memandang kata yang satu itu. Cinta memang tidak terdefinisikan, tapi cinta dapat dirasakan, digenggam dan dipegang erat. Cinta tidak bisa diatur kapan kiranya ia akan datang tapi cinta dapat menghasilkan tenaga untuk mengatur kehidupan. Cinta penuh variasi, cinta penuh tantangan, cinta penuh angan-angan dan harapan, dan cinta gelap tak terlihat, dingin, dan menakutkan jika cinta tidak pada tempat yang semestinya.

Jadi teringat dengan salah satu kisah. Kisah yang menjadi rujukan, kisah yang menjadi saran dari seorang guru ketika berpakaian putih abu-abu dulu. Bahwa cinta terkadang memang tidak saling memiliki. Kisah mengenai cinta seorang abid kepada wanita penari perut di jazirah arabia ketika zamannya. Seorang abid ini mengalami cinta yang tidak pada semestinya, karena untuk kadar seorang ahli ibadah seperti dia harus jatuh kepada seorang penari perut yang pada setiap pertunjukannya selalu menampilkan lekuk tubuh untuk penikmat tarian tersebut. Tapi cinta memang rumit dan tidak terdefinisikan, seperti itulah. Hingga kemudian seorang abid ini terus menahan rasa cinta yang rumit ini kepada sang peneri perut tersebut. Semakin tertahan semakin tumpah ruahlah perasaan tersebut. Hingga sampailah kabar berita tersebut ke telinga ke sang wanita pujaan hatinya ini.

Wanita penari perut ini merasa kebingungan ketika mengetahui kabar ini sekaligus bercampur rasa bangga, seorang sekelas abid yang menjadi tempat mengambil hikmah dari warga sekitarnya waktu itu harus jatuh cinta pada seorang peneri perut seperti dirinya. Sungguh aneh tapi sekali lagi itulah cinta. Sang wanita ini pun mencoba mengikuti gerak-gerik sang abid. Segala aktifitas yang sang abid lakukan diamati lamat-lamat dan benar-benar terhayati dalam diri wanita ini. Hingga suatu waktu wanita ini ingin sekali mendalami dunia sang abid. Waktu berubah dan Sang penari perut ini pun berubah pula (abidah mungkin, hehe tapi sayangnya tidak ada terminologi itu di arab). Seorang penari perut kini telah menjadi seorang wanita yang terjaga dan terlindungi, pun dari mata seorang abid itu. Waktu berlalu dan mereka saling menjaga perasaan cinta itu. Mereka ingin benar-benar mereguk manisnya cinta hingga waktu yang benar-benar tepat. Tapi waktu berkata lain, sang wanita dipersunting oleh orang yang bukan ia cintai. Sang abid merasakan kehampaan yang luar biasa. Dunia tidak berpihak kepadanya. Takdir dan tuhan tidak berpihak kepadanya, seperti itulah rasa yang ia rasakan saat itu.

Bagaimana kelanjutannya? Bagaimana cerita berikutnya?

Seandainya cinta kita hanya dan memang hanya untuk sang pemilik cinta.

Tidak akan cinta kepada manusia menghalangi cinta kita kepada sang pencipta. Karena sesungguhnya pemilik cinta sesungguhnya hanyalah Dia, sang penggenggam cinta.

Itu yang dirasakan sang abid dan sang mantan penari perut tersebut. Sang wanita hijrah ke suatu tempat, tidak bertemu dalam jangka waktu yang lama. Sang abid terus memendam perasaan cintanya, hingga suatu saat ia bertemu dengan wanita yang ia cintainya ketika muda dulu. Tapi sang wanita sudah sah menjadi milik orang lain, kedua insan ini sangat mengerti makna ini. Hingga wanita ini menulis surat kepada sang abid yang isinya itu bercerita mengenai keabadian cinta, cinta yang datang untuk dirinya akan bertahan walaupun dibatasi oleh sesuatu, oleh ruang dan waktu, cinta kepada dirinya akan terus abadi hingga akhirat nanti, walaupun di dunia tidak saling memiliki. Hingga akhirnya tidak lama setelah menulis surat itu sang wanita dipanggil Sang Pencipta. Beberapa tahun setelah itu Sang Abid menyusul. Dan mereka saling menjaga cinta yang telah tumbuh, menjaga tanpa menodainya hingga bertemu Sang Pencipta. Mereka suci dengan cinta yang mereka jaga hanya untuk Sang Pencipta.

Cerita di atas sedikit mengenai kisah-kisah cinta yang pernah terjadi. Paparan yang mungkin bisa jadi pembelajaran. Walau terkadang banyak paparan yang mencoba menyangkut pautkan cinta dengan logika, hal yang berbau ilmiah. Cinta itu perasaan, cinta itu hati. Bagaimana mungkin ia bisa dinalar dengan logika, mhmm tapi pada kenyataanya memang ada hubungan dengan itu.

Banyak ilmuwan yang coba mendefinisikan kata yang satu ini. Benar-benar dengan penelitian ilmiah. Sedikit memang bisa mengungkap hal-hal yang dapat diteliti. Tapi tetap saja cinta selalu menjadi misteri yang rumit untuk dipecahkan.

Bukti syaraf menunjukkan bahwa fenomena “jatuh cinta” merupakan serangkaian reaksi kimia yang terjadi di dalam otak yang mengakibatkan reaksi pada rohani dan jasmani. Diperkirakan ada 100 juta syaraf yang menyusun komunikasi otak. Candace Pert, penulis buku Molecules of Emotion (Molekul Emosi) (1999), mengawali penelitian yang menemukan neuropeptida, yaitu serangkaian asam amino yang mengambang di seputar tubuh dan menempelkan diri pada penerima yang menyambutnya. Sejauh ini, 60 neuropeptida yang berbeda telah ditemukan dan mereka merupakan pemicu reaksi perasaan di dalam tubuh ketika mereka saling berhubungan dengan penerima. Dengan kata lain, segala perasaan kita, baik itu rasa cinta, duka, gembira, dan segalanya adalah hasil dari proses biokimia.

Seorang imuwan inggris, Francis Crick dan teman sejawatnya memenangkan Penghargaan Nobel dalam bidang kedokteran karena telah memecahkan kode DNA yang menegaskan gen-gen. Ia membuat kagum dunia kedokteran dengan mengatakan, “Anda, kegembiraan, kesedihan, kenangan, ambisi, rasa jait diri, keinginan cinta Anda, tidak lebih dari perilaku kumpulan sel syaraf yang luas.”

Kimiawi utama yang memberi kita  perasaan jasmani yang menggembirakan karena sedang jatuh cinta itu disebut PEA (Phenilethylalamine) yang dihubungkan dengan Amphetamine dan ditemukan juga di cokelat. Ini adalah salah satu dari kimiawi yang membuat jantung kita berdebar, tangan kita berkeringat, manik mata membesar dan membuat ada rasa geli dalam perut kita. Adrenalin juga dilepaskan, sehingga mempercepat detak jantung, membuat kita waspada dan membantu kita merasa nyaman. Selain itu endrofin yang membentuk sistem pertahanan tubuh sehingga demam kita ketika itu menjadi sembuh. Otak wanita tersebut juga membuat penentuan kimiawi tentang keadaan sistem pertahanan tubuh pria, pasangan hidupnya itu.

Segala reaksi kimiawi yang positif ini menjelaskan mengapa orang-orang yang sedang jatuh cinta memiliki kesehatan yang lebih baik dan jauh lebih jarang menderita sakit dibandingkan dengan yang tidak jatuh cinta. Jatuh cinta biasanya baik untuk kesehatan Anda. (Pease, Allan & Barbara. 2005).


Paparan di atas tersebut lebih menjelaskan mengenai fenomena jatuh cinta yang mungkin sebagian dari kita pernah mengalami itu semua, secara ilmiah. Terlepas dari benar atau tidak hal tersebut pernah terjadi dalam diri kita, penelitian cinta secara ilmiah pasti pernah dilakukan, dan ada sekelompok orang yang benar-benar mau berusaha untuk memecahkan fenomena tersebut.

Sekali lagi penelitian ilmiah pun masih sangat sedikit mengungkap kata yang satu ini. Kerumitan tersebut memang benar ada, dan rumit untuk bisa dijelaskan secara ilmiah. Paling tidak ilmiah telah menjelaskan mengapa ini terjadi, mengapa itu terjadi. That’s it.

Jadi seharusnya cinta itu seperti apa? Harus bagaimana?

Jika kau benar benar mencintainya, menyayanginya, kau takkan pernah rela menjadi sarana baginya merasakan siksa api neraka. Seharusnya, jika kau benar benar mencintainya, menyayanginya maka jagalah hatinya, penuhilah hak hak nya sebagai sesama muslim, jagalah izzahnya, dengan tidak melakukan maksiat bersamanya.

Maka mencintailah sejantan Ali ibn Abi Thalib. Karna cinta tidak pernah memilih untuk menunggu. Dia adalah mengambil kesempatan, maka disitulah keberanian. Atau mempersilahkan, maka disitulah pengorbanan. (Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang)

Cinta yang sejati adalah cinta yang dapat menjadi pemberat timbangan kebaikan kita, sehingga kita mampu menghadapa Allah dalam keadaan iman terbaik kita. Karena sesungguhnya kita tak pernah tau sampai dimana batas waktu kita.

Jika cinta damai di keheningan, biarkan ia tenggelam bersama temaramnya.  Mengendapkan rasam-rasam emosi yang tak semestinya ada.  Membungkus debaran dan sesak rindu yang tak jua mereda.  Menghempaskan segala rasa yang menghanyutkan dan melenakan.

Biar cinta tetap berada di tempatnya, sebelum sang takdir menjemputnya kembali untuk menemuimu.  Menawarkan seteguk kedamaian yang tak kau rasa hanya di dunia nan fana ini.  Nantilah saatnya tiba, jangan rebut ia dari waktu.  Hargailah usahanya menghargaimu dan menghargai masa.  Senja keberapapun, gerimis beribu kalipun, ia tetap ada.  Menunggu di tempat yang semestinya, hingga suatu ketika ia kan keluar dari peradunya, menjemputmu yang semakin merekah.  Memintamu membalas uluran tangannya.  Tunggulah saat yang paling tepat dan baik.

Dan bukan hanya waktu saja yang tepat, tetapi dirimu pun telah tegap dan demikian pula cintamu yang kan menjadi semakin lengkap.  (dikutip dari catatan Seniman Hujan)

Biarkan cinta hadir ketika kita benar-benar siap memberi dan menerima cinta.  Akan indah pada saatnya.  Harus tetap menjaga kesuciannya…

Tentunya tidak akan ada rasa ketakutan, kehilangan, atau kejemuan. Karena sesungguhnya Dia lah tempat menyangkutkan perasaan cinta ini. Dia yang memberikan cinta, maka sudah sepantasnyalah semua lipatan cinta dalam diri kita tersimpan rapi dalam kotak cinta Sang penggenggam cinta.

Cinta tertinggi hanyalah milik Allah, hanyalah cinta kepada Allah. Allah takkan pernah mati. Cinta kepada-Nya adalah kekal, tidak akan lekang dan tercabik, kecuali jika kita mengotorinya…

Cintaku, mudah-mudahan cinta kita selalu menjadi pengingat kepada Sang Penggenggam Cinta. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, dengan sepenuh jiwaku, yang mudah-mudahan akan selalu membawa jalan untuk lebih dekat pada cinta yang sebenarnya. Aku mencintaimu dengan ketulusan dan keikhlasan, karena allah ta’ala. Mudah-mudahan saling bisa menjaga, mudah-mudahan tidak terjerembab dalam kubangan dan lumuran dosa.

Penulis akhiri dengan puisi indah yang sangat menyentuh hati yang membuat tertegun penulis ketika pertama kali membacanya.

CINTA
Jangan salahkan perasaan cinta seseorang terhadapmu  karena ia pun tidak pernah tahu tentang rasa cinta yang tumbuh itu.

Jangan kau benci karena cintanya padamu  karena ia pun tersiksa karena rasa cinta itu padamu.

Jangan kau ambil kesempatan karena cintanya terhadapmu, karena sesungguhnya kau telah berbuat zhalim karena cintanya terhadapmu.

Cinta adalah anugrah Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya yang penuh keindahan dan hanya bisa dirasakan pemilik cinta.

Dengan cinta orang bisa menutupi luka

Dengan cinta orang bisa menyembuhkan luka

Dengan cinta orang masih bisa berharap

Karena cinta manusia masih mempunyai mimpi

Karena cinta manusia bisa terluka

Karena cinta manusia bisa bahagia

Cinta sejati adalah cinta yang tidak pernah mengharap untuk dibalas.

Cinta sejati hanya memberi walau tanpa menerima.

Cinta sejati bisa terluka, tapi tidak kuasa memberikan luka.

Hanya cinta Sang Khalik yang tak pernah mengharap balasan

Hanya cinta Sang Khalik yang tak pernah pamrih

Hanya cinta Sang Khalik yang selalu setia. Maka cintailah Dia. maka engkau tak akan dikecewakan.

Cintailah Dia, karena cintamu akan terbalas.

Cintailah Dia karena Dia selalu setia.

Cintailah Dia karena kau akan bahagia.

Created by:

jainal.abidin@engineer.com

facebook.com/jainal.jay.abidin

Mangroove Rivulus

PENELITIAN ilmuwan AS mengungkapkan, ikan tropis yang hidup di rawa-rawa ternyata bisa bertahan hidup berbulan-bulan tanpa air. Salah satu jenis ikan tersebut adalah mangrove rivulus (Rivulus marmoratus) yang hidup di rawa-rawa berbakau sepanjang Benua Amerika.

Begitu musim paceklik tiba dan air menyusut, tak jarang ikan yang hanya dapat tumbuh hingga ukuran 7,5 centimeter ini terjebak di rongga batang pohon yang dibuat serangga, tempurung kelapa, bahkan kaleng bekas. Mereka hidup bergerombol dalam lubang tanah dan bernapas menggunakan kulitnya daripada insangnya.

Berbeda dengan sebagian besar ikan yang bernapas dengan insang, mangrove rivulus bernapas dengan kulit. Ketika habitat mulai mengering, mereka bersembunyi dalam lubang-lubang tanah, bahkan tempurung kelapa atau kaleng minuman. Dalam persembunyian, ikan-ikan tersebut bernapas dengan kulit dan mampu hidup berbulan-bulan tanpa air. Setelah hujan tiba dan air kembali menggenangi habitat, mereka keluar dari persembunyian dan hidup layaknya ikan biasa.

Scott Taylor, seorang peneliti dari Program Tanah Lingkungan Terancam Daerah Brevard di Florida, AS, tanpa sengaja mengetahuinya saat melakukan penelitian di Belize, Amerika Tengah. Jenis ikan tropis tersebut sebenarnya juga dapat ditemukan di Brasil maupun AS.

“Kami membongkar sebuah batang pohon dan ikan tersebut muncul tiba-tiba,” ujar Taylor. Kemudian hasil pengujian yang dilakukannya di laboratorium memperlihatkan ikan tersebut bertahan hingga lebih dari 66 hari tanpa air dan makanan. Yang mengejutkan, sistem metabolisme tubuhnya tetap berfungsi normal.

Sejumlah jenis ikan diketahui memiliki kemampuan bertahan hidup tanpa air dan makanan namun belum ada yang selama ini. Coba lihat, ikan lele yang dapat merangkak di darat sampai berjam-jam. Ikan paru-paru di Australia, Afrika, dan Amerika Selatan juga dapat hidup tanpa air namun hanya pada periode dormansi (puasa di musim panas).

Kemampuan ikan ini mungkin memberi petunjuk bagaimana hewan air mulai berkembang di darat. Patricia Wright, seorang biolog dari Universitas Guelph, Kanada, mengatakan habitat ikan tersebut mirip dengan kondisi lingkungan jutaan tahun lalu saat hewan mulai melakukan migrasi dari air ke darat.

Tidak hanya tahan tanpa air, ikan mangrove rivulus juga memiliki kondisi seksual yang ganjil. Setiap ikan memiliki testis dan ovarium alias partenogenesis sehingga dapat melakukan pembuahan mandiri dengan membuahi sel telurnya sendiri di dalam tubuh. “Ia mungkin ikan paling mantap, tidak hanya memiliki seks yang ganjil tapi juga tidak memiliki kehidupan standar seperti ikan lainnya,” ujar Taylor.

Persebaran Ikan Tropis ini

Perampok I : “Kemarin aku berhasil merampok sebuah rumah mewah yang hanya dihuni oleh gadis berumur 19 tahun dan neneknya yang sudah sangat tua.”

Perampok II : “Terus…”

Perampok I : “Aku membawa pulang barang-barang elektronik, perhiasan, uang dan tentu saja… Gadis berumur 19 tahun yang cantik bukan main itu.”

Perampok II : “Lalu neneknya?”

Perampok I : “Kamu mau ?”

Perampok Ngawur

[ketawa.com]

jainal13.wordpress.com

Tester nihh…

kan baru-baru ya ni gw tester doank.

Pokonya selesai baca harus tanpa expressi atau minimal seperti saat pertama kali baca.

Jadi ceritanya tentang dialog Malam Pertama

Cowok : Akhirnya…, aku sudah lama menunggu saat ini tiba.
Cewek : Apakah kau rela kalau aku pergi ?
Cowok : Tentu tidak ! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu.
Cewek : Apakah engkau mencintaiku ?
Cowok : Tentu ! Selamanya akan begitu.
Cewek : Apakah kau pernah selingkuh ?
Cowok : Gila ! Jelas tidak ! Aku takkan pernah melakukan hal seburuk itu.
Cewek : Maukah kau menciumku ?
Cowok : Ya..
Cewek : Sayangku….

SETELAH 10 TAHUN MENIKAH….., dialog tadi wajib dibaca dari bawah ke atas ya .