Archive for the ‘Arsitektur’ Category

(saat membuka mungkin lambat karena foto dalam High Definition Format)

Osad ‘aini

Wa baina maad
Law ahna baad
Akiid ragaa walaw baini wabainu blad

Wa baina maad
Law ahna baad
Akiid ragaa walaw baini wabainu blad

Osad ‘aini fii kulli makan
Osad ‘aini fii kulli makan

Wa min tani akiid ragaaiin
Ana dayib wa kulli haniin
Wala ‘omri abiiaa law miin
Osad ‘aini
W mush ader ‘aala al-ayam
Wala yuusif hawaya kalam
W tullaily wa lama banam
Osad ‘aini

(Osad ‘ainy-Amr Diab)

Ada cerita di school pertama. Cerita tepat sebelum berangkat. Cerita ketika di perjalanan. Cerita ketika school. Cerita ketika setelah school. Dan cerita saat ini. Wuaaaaahhh, sudah lama sekali tidak menorehkan kata-kata di blog. Semenjak itu, kalo kata temen di twitter, semenjak lo ………. dengan sangat tragis (fill the blank gap please,, up to u. haha).

Jadi kita mulai dari mana ya, mhmmm. Mulai dari situ sajja. *tapi jangan banyak-banyak mas, orang mumet bacanya. Banyakin gambarnya aja. Xixixix. *iya deeeehh, cerewet!. Satu kata memang, itu lagu memang sangat menggetarkan, eh pas nyoba cari tau artinya dalam bahasa Indonesia, lebih menggairahkan lagi, upsss.. menggetarkan.

Ane ga mao sok-sok romantic, en ga mao juga sok-sok alim. Cia elah. Yang namanya perasaan itu memang ga pernah ada yang tau. Kadang naik, kadang turun. Sama seperti iman, al imanu yazidu wa yanqus, ehem berasa ulama. Langsung sajalah tidak usah banyak cakap, see first picture. Jreng jeeeeeng…

Wallpaper Monas Jakarta
Wallpaper Monas Jakarta

Kenapa malah gambar monas ya?. Banyak sejarah tersimpan di monas. Termasuk sejarah hidup saya, hiks hikss.. *nangis mode on + lebay mode on. Foto tersebut diambil pada tanggal 3 Sept ’10, tepat setahun yang lalu. Banyak kenangan yang tertoreh karena monas, walaupun banyak orang yang tersakiti jika teringat monas. Dan dari monas ini juga saya menjadi semangat karena untuk survive di school yang ke-13 orang berpasang-pasangan punya kawan dengan bahasa yang sama, entah itu latino atau arabiano atau russiano, atau pula indiahe mereketehe jahe jahe. Saya berasal dari melayu sendirian! Tanpa ada orang Malaysia, Singapura, Brunai (kalo ada orang brunai enak kali yak, ane ditraktir terus, haha. Ngarepp), apalagi orang Indonesia. Tapi Alhamdulillah kesendirian ini tidak menjadi masalah, karena saya ingat monas itu. Dan momen pada saat taking picture tersebut.

Sebenarnya ingin sekali tulisan ini ditulis ketika 2 bulan school, tapi aah, sayang sekali baru bisa sekarang. Satu hal yang paling penting adalah saya sangat tidak ingin membuka kenangan masa lalu. Tapi mau tidak mau semua harus ditumpahkan agar tidak ada lagi yang tertahan. Mudah-mudahan tidak ada harapan tersisa, saya hanya ingin memberikan apa yang ada dalam pikiran saya. Cerita itu terus centang perenang dalam pikiran saya, dan tidak mudah untuk menenggelamkan untaian waktu yang terangkai walau sangat singkat. Osad ‘aini. Semuanya menjadi kenangan.

Burj al arab Dubai in night mode

Burj al arab Dubai

Ane ga pernah mengira akan terjadi hal yang mungkin juga ente-ente pada ga bakal mengira. *pasti ente-ente bacanya bingung sendiri. Ternyata malam itu adalah malam terakhir dimana setelah itu tidak ada cerita lagi. Dan ane bersyukur kepada allah karena masi bisa diberikan malam terakhir dan waktu yang cukup. Walaupun tidak ada setitik pun pikiran untuk tidak bertemu lagi setelah itu. Semuanya memang berlalu begitu cepat. Persimpangan jalan membuat sakit di jiwa. Keluarga atau orang lain. Dan ketika coba dipikirkan lagi betapa banyak pikiran ini telah membuat sakit dan teririsnya hati orang lain. Too much, terlalu banyak!. coba kita tengok lagi syair lagu diatas, Wa baina baad (ada tautan antara kita), coba seandainya kita tidak pernah bertaut, tidak pernah bertemu. Mungkin tidak akan ada yang tersakiti akhirnya. Siapapun. Tidak ada yang akan tersakiti. Tapi ya itulah jalan kehidupan. kita ditakdirkan untuk bertemu, bertatap muka, bersenyum dan terisak, walau akhirnya kita sadar bahwa suatu saat kita akan terpisah. Entah memang karena ruang yang berbeda atau jiwa yang berbeda. Dan ini nasihat buat siapapun yang merasa nyaman dalam kebersamaan, bahwa segalanya akan sirna, kebersamaan akan menjadi kesendirian ketika menghadap hadirat-Nya ketika mulai hari perhitungan.

Sudahlah, jangan menangis lagi..

Bukankah Ia mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dalam setiap kesempatan dan bersabar dalam setiap kesempitan.

jalan di Universitas Indonesia

UI road

Hai…!.

Kita tidak sedang berbicara suatu yang mellow kan??. Yes sure. So lets move it.

Setelah perjalanan panjang 9 jam dengan acara transit di negara tetangga terdekat. Sampai jualah di Negara perjuangan kemerdekaan ilmu pengetahuan (kalo yg ini jelas ngarang, jangan diikutin), abu dhabi. Tidak lupa deraian air mata diantara sela perjalanan. “aku harus meninggalkan Negara tercinta selama 2 bulan, menjadi TKI”, ahaha alah lebay, yg 20 tahun aja gak sampe segitunya. *yaa mohon maklum kalo baca paragraph sebelum-sebelumnya kan emang didahulukan dengan kemelow-an.

Sedih aja sich meninggalkan Indonesia dengan perasaan terluka, sebenernya yang terluka sana apa sini yak? Seharusnya kesedihan nan cupu ini tidak usah dikasi tahu siapa-siapa. Toh juga gak akan ada yang ngasi uang seribu-an.

dari sudut bandara

airport silhouette

Tidak mudah juga ternyata menceritakan hal yang banyak dalam waktu yang sempit. Banyak hal yang ingin diceritakan, tapi terbatas dengan ruang pikiran dan waktu yang tersedia. Memang menyederhanakan masalah dan mengarahkan pada tujuan dan targetnya benar-benar tidak mudah (menurut saya lho).

Nah setelah cerita di perjalanan yang sungguh menyesakkan dada hingga terbawa ke alam mimpi. Berikutnya adalah cerita tentang perjuangan di school. Satu kelas dengan 12 orang lainnya dari berbagai Negara di dunia. (Kayanya perlu untuk menceritakan namanya untuk arsip, haha).

Ini dia cerita dari skul pertama.

Ada Evegeny, ini brother yg paling akrab, dengan aksen English amerika-nya yg sangat fasih, pemuda asli rusia yang dapat assignment di Brazil ini sungguh luar biasa, sangat kreatif, pikiran yang luas, dan sangat dihormati temen-temen sekelas, gaya bicara yang lugas dan mantap membuat kita sekelas sangat respek dengan pemuda ini, belum lagi hasil kreatifitas adobe pdf-nya yang sangat mantap, ah. Okehlah pokoknya. Ada Daniyar, pemudah muslim asal Kazakhstan ini berwajah sangat cerah, dan bernuansa asia, dengan rahang dan tinggi sangat kecianaan tapi berbicara bahasa rusia. Haha, sangat kratif dan atraktif juga aktif dan inisiatif. Kebetulan dengan Russian brotherhood ini saya sangat akrab dan dekat, hingga belajar dan pergi bersama dengan mereka. Oh iya, Daniyar juga memberikan kenang-kenangan mata uang Russia dengan pecahan yang cukup besar, dia bilang kedua terbesar.

Ada lagi Omar al-yaqout, pemuda asal Kuwait ini dengan badan yang agak kurus, apabila berjalan dengan Bader akan terlihat seperti angka 10. Nuansa Kuwait yang mewah tidak terlepas dari pemuda ini, tapi ketenangannya dalam menghadapai masalah dan pertanyaan memang patut diacungi jempol. Sebagaimanapun rumitnya masalah dan kita ditimpa dalam kestressan manusia yang satu ini sangat tenang. Duduk disebelah kanan saya. Kalo jalan ke Dubai pasti belanja, haha, yaiyalah mata uangnya aja 1 Dinar = 3 dolar. Gaji total 7500 dolar perbulan. Instruktur yang asli Algeria pasti selalu ngecengin ini orang, “bagaimana kalau kita pindah kewarganegaraan”, haha. Next disebelah Evegeny (Evegeny duduk disebelah kiri saya bro) ada India tumhere jahe jahe. Ini pemuda juga sangat unik, bener-bener unik. Yang ada dalam pikirannya Cuma liburan-liburan-liburan dan internet browsing. Tidak lupa jika instruktur sedang menerangkan dengan seriusnya Aviral tidak lupa untuk mengangkat laptop sedikit dan browsing dan langsuuung, tapi hebatnya walaupun yang ada di dalam pikiran anak ini adalah hiburan tapi ketika ujian dan test, pasti mantepnya luar biasa. Emang india okeh banget lah. Cerdas ni orang, walaupun sedikit tau dia pasti akan mengembangkan pikiran menjadi sesuatu yang luas.

Ada Cedric disebelah kiri Daniyar, Daniyar didebelah kiri Aviral. Nah pak tua yang satu ini juga mantep, dengan usianya yang 28 Negroid tua ini terlihat muda. Orang ini adalah orang dengan karakter perusahaan sangat, tegas, pasti dan konsekwen. Luar biasa. Di awal-awal saya belajar banyak dengan pemuda ini, belajar bersama juga dengan salah satu pemuda dari Kongo, Cedric sendiri berasal dari Gabon. Di belakang Cedric ada Rudy. Haha, pemuda asal Kongo ini benar-benar sangat lucu. Dengan pola pikirnya yang aneh dan kekocakan serta pipinya yg lucu kalo senyum membuat geng Latino pasti ngecengin ini anak. Haha dengan waktu preschool yg sangat singkat yg hanya 2 bulan, membuat ia benar-benar bekerja keras, hingga cleaning service takut untuk masuk ke kamar ini bocah haha. Rudyyy.. we love u. haha.

Disebelah kanan rudy ada Herminio dan Fabio. Duet Brazilian ini benar-benar sangat membawa kelas ke arah mana nantinya. Dan Fabio, cerdas dan penjelasannya sangat jelas. Next disebelah kiri ada Alejandro pemuda asal Columbia ini sangat tenang, dengan bicara yang lambat dan jelas, serta senyuman yang tak lupa tersungging, tanpa emosi dan nada tinggi membuat pemuda ini cukup disegani pula, tak lupa girlfriendnya yg aduhai membuat Columbian ini berasa mantap. Dan tak lupa wanita yg ada di kamarnya saat akan berangkat ke Negara asal mereka. mhmm cukup mengagetkan saya, upss, maaf saya mengganggu kalian, hahaha. Berikutnya adalah Arabian brother Bader dari KSA, Karim dari Egypt, dan yang paling tua Ali dari Iran. Sangat member warna dalam kelas ini. Geng arab yang satu ini bersama dengan omar pasti sangat asik jika sudah masuk tema pembicaraan. Apalagi jika pembicaraan ini menyangkut nama teluk. Ini teluk Persia atau teluk Arab, haha, Ali akan mengatakan ini adalah teluk Persia, tapi Bader & Omar akan bilang ini adalah teluk Arab. Its about oil & gas, I think. Mereka adalah orang yang luar biasa. Dan saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka semua. Oiya, dan tak lupa Mr. Ramdani dari Algeria yang selalu ketemu pas sholat zhuhur di musholla. Thanks sir upon your knowledge.

Multi Nationality Class

TEP-2 March-May 2011

Thanks for the sahara,

Dubai Desert Rangers

Desert Rangers

Multi Nationality class in safari desert

Multi Nationality class

safari desert in dubai

Dubai desert

Thanks for the silhouette,

siluet senja gurun

silhouette hunter

Thanks for the swinging dance and the belly,

desert swinging dance in dubai

swinging dance & belly dance

Thanks for the Journey and touring,

Burj al khalifa in noon

Burj al khalifa

Burj Al Arab in noon mode

Burj Al Arab Dubai

inside of a mall

inside of dubai mall

Cerita ketika school pertama ini adalah cerita tentang perjuangan dan kebersamaan. Beratnya tantangan yang dihadapi menjadi ringan ketika dihadapkan dengan kebersamaan teman-teman, entah dalam kelas atau teman-teman dari Indonesia. Semuanya jadi easy ketika dihadapi bersama. Dan ada lagi cerita unik yang menarik, di sela-sela padatnya jadwal, di akhir pekan kita tak akan lupa untuk pergi ke kota (tempat kita pelosok di tengah gurun sehingga ketika akhir pekan kabanyakan mereka lari ke kota) menyempatkan diri untuk makan-makanan khas Abu Dhabi, Nasi Padaaang! Memang paling eksis yang namanya nasi padang ini, walaupun yang masak orang sunda.

sari rasa abu dhabi

restaurant sari rasa abu dhabi

Emang paling d’best dah masakan padang, ditengah mumetnya makan-makanan arab ala india yang rasanya aneh (kayanya ini menurut saya aja deh, ga tau menurut yang lain). Tapi setidak-tidaknya benar-benar menghibur dan melepas kerinduan yang mendalam, setelah bertahun-tahun gak pulang ke Indonesia (lebayyy mode on). Tapi bener lho, disini banyak orang Indonesia, sekali masuk gak berasa kalo sedang ada di negeri antah berantah. Kebanyak dari mereka pas kita ajak ngobrol adalah para pekerja, TKI, ga jauh dari kita-kita ini, Cuma bedanya kita di-reserve abizz. Terkadang kalau kita membicarakan mereka kita jadi berasa sedih, miris, terkadang bangga juga dengan mereka. Bagaimana tidak, dengan keahlian yang minim, bahkan “0”, mereka dengan nekatnya pergi ke Negara orang, tanpa bisa bahasa dan keahlian tertentu, pun dari penyalur tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal tertentu. Ketika mereka lari ke kedutaan, kedutaan tidak tahu menahu tentang hal ini semua, kedutaan mengurusu hubungan diplomatik yang bukan hanya sekedar mengurus masalah TKI. Sehingga kadang mereka terbengkalai tanpa ada yang mengurusi. Sangat berbeda dengan TKP (Tenaga Kerja Philiphine) yang mereka dididik sangat, mereka punya mess/apartemen tempat mereka berkumpul, dan yang jelas mereka TRAINED! Dengan kemampuan bahasa asing yang memadai. Dan firstime ketika melihat mereka, mereka sangat melayu, dengan paras yang benar-benar mirip, sehingga pertama kali anda akan tergiur (sett dah bahasanya tergiur) untuk berbicara bahasa arab, eh perancis, eeeh melayu denk. Ada salah satu joke kita ketika membicarakan masalah ini, masalah perbedaan antara TKI dengan TKP. “lo kalo mau liat saudara seperjuangan gak akan ketemu di mall-mall men, sumpah ga akan, kalo mau liat coba ente bertamu ke rumah-rumah juragan arab itu, pasti ketemu dengan sodare-sodare ente disana”, haha miris memang. Itulah kenyataan, TKP dibekali bahasa sehingga mereka sangat mandiri disana, bekerja, jalan sendiri, lebih bebas, bahkan ada yang berkeluarga. Yah itulah kenyataan, makanya jangan heran.

Hayo-hayooo, siapa yang mau jadi TKI. “sayaaaa mau, tapi TKIT. Tenaga Kerja Indonesia-Trained!”.

Ada cerita tentang the last chocolate yang berhubungan dengan TKIT. Mhmmm, apa yaa.. Nantikan kelanjutannya di part 2.

silverqueen the last chocolate

last chocolate

Ada pula cerita tentang syair yang dibawakan oleh Maher Zain, yang menyindir negeri arab di sebuah salah satu lagunya. mhmm, kira-kira yang mana ya ?

pool in desert

pool in burj al khalifa dubai

To Be Continued..

————————————————————————————————————————-

 

 

 

 

 

jay_zayn@yahoo.com

Jainal13.wordpress.com

Jay_zayn 29 Agustus 2011/ 29 Ramadhan 1432 H, home sweet home.

Iklan

Kalau sebelumnya sudah ditampilkan mengenai Universitas Indonesia dalam pose malam dan sore, atau beberapa pada pose yang tidak umum. Nah, berikut ini pose ikon UI yang paling umum dan lumrah dilihat orang-orang atau di majalah-majalah atau di gambar internet. Plus ada beberapa ikon tertentu dari tempat lain di UI. Dan berikutnya akan ditambahkan lagi buat view-view di sekitar UI dan segala aktifitasnya.

The two towers icon di Universitas Indonesia.

view paling umum dari ikon UI dimana langit masih terlihat biru flat

Balairung-Rektorat UI

(lebih…)

Middle edge lake angle

Balairung rektorat

Ini UI malam hari dengan posisi pengambilan gambar di tepi danau agak dekat dengan balairung.

Near channel angle

Balairung rektorat 2

Ini pose lengkap Balairung dengan rektorat dengan angle normal.

Mirroring night of rectorat UI

Rektorat Night

Balairung UI malam hari bercermin, manis euy!

Middle edge lake angle

Rektorat Perpustakaan UI

Rektorat dengan bangunan perpustakaan masa depan UI, the future library. Kabar-kabarnya ini perpustakaan kampus terbesar se-asia lho.

Zoom angle mode UI library

Perpustakaan UI

Ini dia perpustakaan UI mode malam. Cantique!

Zoom angle with wide saturation

Perpustakaan UI 2

Ini lagi si perpustakaan UI yang akan jadi tempat rujukan terbesar buat mahasiswa UI. Mudah-mudahan dari perpustakaan ini akan muncul ilmuwan & pemikir Indonesia yang tangguh.

MUI Opposite side angle

Perpustakaan Masjid UI

Perpustakaan dan Masjid UI dari seberang danau, terlihat tenang!.

Zoom angle for UI mosque

Masjid UI Night

Tempat melepaskan penat bagi umat muslim UI ketika shalat, sekaligus tempat aktifitas dari aktifis dakwah UI yang terus berusaha menebar kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Masjid Agung Djenne Afrika-Sahara

Masjid Agung Djenne Afrika-Sahara

Djenne, itu nama sebuah kota tertua di sub-Sahara Afrika. Terletak di kawasan lahan banjir yang dilintasi dua sungai, yakni Niger dan Bani. Namun bagi yang belum pernah bertandang ke kota berjarak 354 kilometer di barat daya Timbuktu, terutama muslim, tentu tak mengira ada sebuah masjid dengan arsitektur indah namun tak lazim, yakni Masjid Agung Djene.

Mengapa tak lazim? Bentuknya tak seperti masjid-masjid lain yang cenderung mengacu ke bentuk masjid atau bangunan di timur-tengah abad pertengahan hingga masa Kaisar Ottoman. Polos dan minim ornamen, namun justru menunjukkan jika sang ahli bangunan paham benar bagaimana menghadirkan masjid dengan nafas lokal, rendah hati, namun tidak mengurangi aura sakral dan monumental sebuah masjid agung.

Djene, selain terkenal sebagai kota perdagangan, juga dikenal sebagai kota peziarah dan pusat studi Islam. Masjid Agung itu sendiri dari awal dibangun hingga kini mendominasi alun-alun pasar utama di kota tersebut. Tradisi menuturkan, penduduk Djene memiliki masjidnya pertama kali pada tahun 1240, yang dibangun oleh Sultan Koi setelah memeluk Islam dan mengubah istananya menjadi masjid.

Sangat sedikit yang tahu dan berhasil melacak bentuk serta tampilan masjid pertama itu. Namun Sheikh Amadou, pemimpin kota Djene di awal abad ke-19, menganggap masjid itu terlalu mewah dan berlebihan. Sheikh pun membangun masjid kedua pada tahun 1830, dan memerintahkan merubuhkan masjid pertama begitu masjid kedua rampung. Sementara masjid agung dari lumpur yang tak lazim itu dibangun pada tahun 1906

Masjid yang dikonstruksi di bawah pengawasan ahli bangunan bernama Ismaila Traore ini terbuat dari batu bata lumpur yang dikeringkan dengan sinar matahari (ferey), semen berbahan dasar semen. Sementara lapisan luar menggunakan plester juga berbahan dasar lumpur sehingga memberi tampilan halus berkelok, layaknya patung.

Dinding memiliki ketebalan antara 40 – 60 cm. Ketebalan ini sangat beragantung pada tinggi tembok. Dinding lebih tinggi akan dibuat lebih tebal karena harus menopang struktur lebih berat. Selama pagi hingga sore, dinding-dinding itu secara perlahan menghangat dari luar ke dalam. Di malam hari mereka mendingin lagi. Namun radiasi panas yang dihantarkan dinding membuat suhu udara dalam masjid tetap hangat dan sejuk meski udara di luar mendingin drastis–khas udara gurun.

Ruang utama masjid dengan sembilan puluh pilar kayu menopang langit-langit dapat menampung hingga 3.000 orang. Sifat dingin kayu ikut membantu interior masjid tetap sejuk di waktu siang hingga sore. Masjid agung itu juga memiliki ventilasi udara dengan penutup keramik. Penutup yang dibuat oleh perajin wanita setempat itu dapat dipindahkan di malam hari untuk ventilasi udara dalam masjid.

Saat membangun, dan merencanakan konstruksi, kerusakan akibat air bah menjadi perhatian utama Traore. Apalagi banjir akibat sungai Bani meluap terjadi rutin tiap tahun. Untuk mengatasi itu, Traore pun mendesain pulau buatan, yakni landasan yang ditinggikan dengan permukaan seluas 5635 m² sebagai tempat berdirinya masjid. Landasan tersebut sejauh ini mampu melindungi masjid bahkan dari banjir mengerikan sekalipun.

Selain bahan alam lumpur yang bersahaja, terdapat pula struktur rangka kayu dari batang palem. Kayu-kayu itu tidak berfungsi sebagai balok, melainkan pendukung dan penguat.

Struktur ini dibutuhkan untuk mengikat tanah liat dan mengurangi pecahan lumpur yang diakibatkan perubahan suhu dan kelembaban yang sangat tajam area itu. Selain sebagai penguat kayu-kayu itu berfungsi sebagai penopang otomatis yang berguna saat perbaikan tahunan.

Kayu-kayu itu memang memiliki alasan fungsi kuat, namun batangnya yang mencuat dari dinding-dinding lumpur polos membuat kesan kontras sekaligus memberi aksen estetika  bangunan.

Tak lupa pada bagian bangunan di sisi kiblat, Traore menandai dengan tiga menara lumpur yang dominan. Setiap menara itu memiliki tangga spiral menuju atap, dan di setiap atap berbentuk kerucut spiral, diletakkan telur burung unta perlambang kesuburan dan kemurnian.

Setiap tahun, saat musim panas masjid tersebut dirawat atau diperbaiki ulang dengan pengawasan 80 ahli bangunan senior. Acara itu menjadi festival menarik bagi warga Djene. Banyak warga terlibat dalam pekerjaan mempersiapkan banco (campuran lumpur dengan gabah) untuk acara itu. Menurut para pengunjung yang menyaksikan di tahun 1987, acara itu bisa dikatakan upacara masyarakat dengan banyak pengunjung dan orang tertawa.

Berikut adalah penuturan seorang turis tahun 1987 yang dikutip di situs Sacred Sites “Setiap musim panas masjid agung diplaster ulang. Itu menjadi festival yang menarik, riuh, kacau, menyenangkan, namun juga penuh kehati-hatian. Selama beberapa minggu lumpur dituangkan. Ember-ember penuh dengan larutan kental diaduk dan diratakan dengan kaki telanjang anak-anak lelaki.

Lalu malam sebelum memlaster, muncul pertunjukkan jalanan penuh nyanyian, tetabuhan drum, siulan flute.  Tak lama tiupan peluit keras terdengar tiga kali berturut. Masuk tiupan keempat, ratusan suara bergema dan bergalon-galon lumpur dituangkan. Saat fajar proses pemlasteran sesungguhnya telah berjalan. Kerumunan wanita dengan ember berisi air di atas kepala mendekati masjid. Tim  yang lain membawa lumpur. Orang-orang berkomunikasi dengan yang lain sambil berteriak di area persegi raksasa itu sambil mengoles dan bekerja. Kerja dan bermain menjadi satu, anak-anak muda dimana-mana, membuat kue dari lumpur dari kepala hingga ibu jari,”

Hanya saja festival tahunan itu terancam punah. Para ahli bangunan kini sulit mencari dukungan anak-anak muda dalam festival memoles ulang. Banyak pemuda memilih mencari uang sebagai pemandu turis meninggalkan Djene menuju Kota Bamako yang lebih menjajikan. Pada tahun 1988, kota tua Djenne dan masjid agungnya diresmikan menjadi situs bersejarah oleh UNESCO

Kini bangunan tersebut masih menjulang dan menampung para jamaah muslim kota Djenne saat tiba waktu sholat. Fasad atau tampang bangunan, menara, serta simbol telur burung unta itu sebenarnya adalah elemen sama yang bisa ditemukan di bentuk rumah-rumah penduduk Djene. Desain yang membuat masjid agung  terlihat rendah hati dan menyatu dengan lingkungan lokal. Jauh sebelum gagasan arsitektur ramah lingkungan yang tanggap iklim setempat, menjadi salah satu isu, terutama terkait pemanasan global,  Masjid Agung Djenne telah menerapkan dengan bersahaja./it

Menara Masjid Agung Djenne

Menara Masjid Agung Djenne

Ditengah keramaian

Ditengah keramaian